Jumat, 26 November 2010

HIDUPLAH SEBAGAI JIWA YANG IKHLAS

“Setiap jiwa adalah jiwa kecintaan ALLAH yang diturunkan ke alam kehidupan raga sebagai manusia yang bertugas mewujudkan kemuliaan dari jiwanya untuk mengindahkan kehidupan sesamanyabagi keindahan hidupnya di surga.

Dan jiwa yang mampu memimpin dirinya sendiri untuk keluar dari kekhawatiran, ketidak-tegasan, penundaan, dan kemalasan,
memiliki semua potensi untuk memindahkan gunung.

Sesungguhnya, kekuatan setiap jiwa dijamin oleh Sang Pencipta.

Maka marilah kita ingat kembali kepada pesan yang disampaikan pada hari kelahiran kita ...

"Hiduplah sebagai jiwa yang ikhlas.”

Apakah ikhlas itu ?

Ikhlas adalah seutuhnya menerima Tuhan dengan semua kebenaran-Nya.

Bagaimana caranya untuk ikhlas ?

Terimalah Tuhan dengan seutuhnya, bersama semua takdir dan kebenaran-Nya.

Tetapi mengapakah ikhlas itu sulit ?

Karena engkau memilih mempertahankan kebiasaan dan kesenangan mu yang tak akan memperkuat dan memuliakanmu, daripada memilih pikiran, sikap, dan perilaku yang ditetapkan oleh Tuhan sebagai jalan lurus menuju kedamaian dan kesejahteraanmu.

Apakah jaminannya bahwa hidup saya akan baik, jika saya ikhlas?

Tidak ada jaminan untuk keikhlasan, karena jaminan itu tidak diperlukan. Sebab yang ada adalah bukti, bahwa kurangnya keikhlasanmu telah melemahkan hidupmu.

Marilah kita ikhlaskan diri untuk menjadi pribadi yang dekat dan taat kepada ALLAH dan hidup dengan pikiran, sikap, dan perilaku yang menjadikan kita bermanfaat bagi kebahagiaan sesama.

Surga adalah keindahan kehidupan bagi jiwa yang ikhlas.

Maha Agung ALLAH dalam semua kebenaran-Nya. Yang menjadikan kita utuh dan cukup karena kebersamaan kita dengan-Nya.

Engkaulah Tuhan kami.

Kami berterima kasih karena Kau ijinkan aku mengatakan, bahwa ...
Kami memiliki Tuhan.

Engkau lah yang memiliki kami semua, maka sesungguhnya kami tak membutuhkan apa pun. Kami hanya membutuhkan-Mu.
Karena, jika kami memiliki-Mu, maka kami telah memiliki semuanya.

SEMOGA BERMANFAAT

Sebuah Renungan "Andai Aku Di Makamkan Hari Ini"

Aku mati,Perlahan,tubuhku ditutup tanah.



Perlahan,semua pergi meninggalkanku.



Masih terdengar jelas langkah2 terakhir mereka,Aku sendirian,di tempat gelap yg tak pernah terbayang, Sendiri,menunggu pertanyaan malaikat..



Belahan hati,belahan jiwa pun pergi.Apa lagi sekedar kawan dekat atau orang lain. Aku bukan siapa2 lagi bagi mereka.



Sanak keluarga menangis,sangat pedih,aku pun demikian,tak kalah sedih dan aku juga,



Tetapi aku tetap sendiri, disini,menunggu perhitungan.



Menyesal sudah tak mungkin.Tobat tak lagi dianggap & maaf pun tak bakal didengar,



Aku benar2 harus sendiri..



Ya ALLAH jika Engkau beri aku 1 lagi kesempatan,jika Engkau pinjamkan lagi beberapa hari milikMU,Utk aku perbaiki diriku,



Aku ingin memohon maaf pada mereka, yg selama ini telah merasakan zalimku,yg selama ini sengsara karena aku, tersakiti karena aku,



Aku akan kembalikan jika ada harta kotor ini yg telah kukumpulkan, yg bahkan kumakan..



Yaa ALLAH Beri lagi aku beberapa hari milik-Mu, Untuk berbakti kepada ayah & ibu tercinta.Teringat kata2 kasar & keras yg menyakitkn hati mereka,Maafkan aku ayah & ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu,



Beri juga ya ALLAH aku waktu untuk berkumpul dgn keluargaku, menyenangkan saudara2ku..



Untuk sungguh2 beramal soleh.Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu lebih lama lagi..



Begitu menyesal diri ini. Kesenangan yg pernah kuraih dulu,tak ada artinya sama sekali.



Mengapa kusia ² kan saja waktu hidup yg hanya sekali itu?Andai aku bisa putar ulang waktu itu.



Aku dimakamkan hari ini & semua menjadi tak termaafkan & semua menjadi terlambat & aku harus sendiri



Untuk waktu yg tak terbayangkan sampai yaumul hisab & dikumpulkan dipadang masyar...



Ya RABB sampaikan salamku utk sahabatku yg selalu mengingatkan ku akan hari terakhirku didunia....



Sesungguhnya sahabat yg terbaik yaitu sahabat yang mengingatkan ku akan hari disaat aku dipanggil..Menghadap-MU

SAUDARAKU, HINDARI SIFAT ANGKUH

Sifat angkuh dan sombong telah banyak mencelakakan makhluk ciptaan Allah subhanahu wata’ala, mulai dari peristiwa terusirnya Iblis dari sorga karena kesombongannya untuk tidak mau sujud kepada Nabi Adamalaihis salam tatkala diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk sujud hormat kepadanya.

Demikian juga Allah subhanahu wata’ala telah menenggelamkan Qorun beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada sesama kaumnya.

Allah subhanahu wata’ala juga telah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya di lautan karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada sesama kaumnya, dan karena kesombongannya itulah dia lupa diri sehingga dengan keangkuhannya dia menyatakan dirinya adalah tuhan yang harus disembah dan diagungkan.

Kehancuran kaum Nabi Luth alaihis salam juga karena kesombongan mereka dengan menolak kebenaran yang disampaikan Nabi Luth alaihis salam agar mereka meninggalkan kebiasaan buruk mereka yaitu melakukan penyimpangan seksual, yakni lebih memilih pasangan hidup mereka sesama jenis (homosek), sehingga tanpa disangka-sangka pada suatu pagi, Allah subhanahu wata’alamembalikkan bumi yang mereka tempati dan tiada satu pun di antara mereka yang bisa menyelamatkan diri dari adzab Allah yang datangnya tiba-tiba.

Dan masih banyak kisah lain yang bisa menyadarkan manusia dari kesombongan dan keangkuhan, kalaulah mereka mau mempergunakan hati nurani dan akalnya secara sehat.

Mengapa manusia tidak boleh sombong? Sebab manusia adalah makhluk yang lemah, maka pantaskah makhluk yang lemah itu bermega-megahan dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi? Namun fenomena dan realita yang ada masih banyak manusia itu yang lupa hakikat dan jati dirinya, sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, merendahkan orang lain, serta memandang dirinya sempurna segala-galanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, telah menjelaskan tentang bahayanya sifat kesombongan dan keangkuhan, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah Bin Mas’udradhiyallahu ‘anhu , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
“Tidak masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya ada sedikit kesombongan, kemudian seseorang berkata: “(ya Rasulullah) sesungguhnya seseorang itu senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus”, Beliau bersabda:”Sesunguhnya Allah itu Indah dan Dia menyenangi keindahan, (dan yang dimaksud dengan) kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang lain”(HR. Muslim)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkomentar tentang hadits ini, “Hadits ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka dan menolak kebenaran”. (Syarah Shahih Muslim 2/269).

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya, dia memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak pantas mengerjakan suatu urusan, dia juga sombong menerima kebenaran dari orang lain”. (Jami’ul Ulum Wal Hikam 2/275)

Raghib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Sombong adalah keadaan/kondisi seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, memandang dirinya lebih utama dari orang lain, kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan cara menolak kebenaran (dari-Nya) dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan maupun dalam mentauhidkan-Nya.” (Umdatul Qari` 22/140).

Nash-nash Ilahiyyah banyak sekali mencela orang yang sombong dan angkuh, baik yang terdapat dalam Al-Qur`an maupun dalam As-Sunnah.

1. Orang Yang Sombong Telah Mengabaikan Perintah Allah subhanahu wata’ala.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (angkuh).” (QS. 31:18)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, menjelaskan makna firman Allah subhanahu wata’ala: (Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia) dia berkata: “Janganlah kamu sombong dan merendahkan manusia, hingga kamu memalingkan wajahmu ketika mereka berbicara kepadamu.” (Tafsir At-Thobari 21/74)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan Firman Allahsubhanahu wata’ala, ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh”, maksudnya janganlah kamu menjadi orang yang sombong, keras kepala, berbuat semena-mena, janganlah kamu lakukan semua itu yang menyebabkan Allah murka kepadamu”. (Tafsir Ibnu Katsir 3/417).

2. Orang Yang Sombong Menjadi Penghuni Neraka.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:
“Katakanlah kepada mereka: Masuklah kalian ke pintu-pintu neraka jahannam dan kekal di dalamnya, maka itulah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. Az-Zumar: 72)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidak akan masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya terdapat sedikit kesombongan.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, “Maukah Aku beritakan kepada kalian tentang penghuni surga? Para shahabat menjawab: tentu (wahai Rasulullah), lalu beliau berkata: “(Penghuni surga adalah) orang-orang yang lemah lagi direndahkan oleh orang lain, kalau dia bersumpah (berdo’a) kepada Allah niscaya Allah kabulkan do’anya, Maukah Aku beritakan kepada kalian tentang penghuni neraka? Para shahabat menjawab: tentu (wahai Rasulullah), lalu beliau berkata: “(Penghuni neraka adalah) orang-orang yang keras kepala, berbuat semena-mena (kasar), lagi sombong”. (HR. Bukhori & Muslim)

3. Orang Yang Sombong Pintu Hatinya Terkunci & Tertutup.

Sebagaimana Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya:
“Demikianah Allah mengunci mati pintu hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (QS. Ghafir 35)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Sebagaimana Allah mengunci mati hati orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah maka demikian juga halnya Allah juga mengunci mati hati orang yang sombong lagi berbuat semena-mena, yang demikian itu karena hati merupakan sumber pangkal kesombongan, sedangkan anggota tubuh hanya tunduk dan patuh mengikuti hati”. (Fathul Qodir 4/492).

4. Kesombongan Membawa Kepada Kehinaan Di Dunia & Di Akhirat

Orang yang sombong akan mendapatkan kehinaan di dunia ini berupa kejahilan, sebagai balasan dari perbuatannya, perhatikanlah firman Allah subhanahu wata’ala, artinya:
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di dunia ini tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaanku”. (QS. Al-’Araf: 146)

(Maksudnya) yaitu Aku (Allah) halangi mereka memahami hujah-hujjah dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang keagungan-Ku, syari’at-Ku, hukum-hukum-Ku pada hati orang-orang yang sombong untuk ta’at kepada kepada-Ku dan sombong kepada manusia tanpa alasan yang benar, sebagaimana mereka sombong tanpa alasan yang benar, maka Allah hinakan mereka dengan kebodohan (kejahilan). (Tafsir Ibnu Katsir 2/228)

Kebodohan adalah sumber segala malapetaka, sehingga Allah sangat mencela orang-orang yang jahil dan orang-orang yang betah dengan kejahilannya, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:
“Sesungguhnya makhluk yang paling jelek (paling hina) di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apapun (jahil).” (QS. Al-Anfal:22)

Maksudnya Allah subhanahu wata’ala menghinakan orang-orang yang tidak mau mendengar-kan kebenaran dan tidak mau menutur-kan yang haq, sehingga orang tersebut tidak memahami ayat-ayat-Nya yang pada akhirnya menyebabkan dia menjadi seorang yang jahil dan tidak mengerti apa-apa, dan kejahilan itulah bentuk kehinaan bagi orang-orang yang sombong.

Dan orang yang sombong di akhirat dihinakan oleh Allahsubhanahu wata’ala dengan memperkecil postur tubuh mereka sekecil semut dan hinaan datang kepada dari segala penjuru tempat, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits berikut:
“Orang-orang yang sombong akan dihimpunkan pada hari kiamat seperti dalam bentuk semut-semut kecil dengan rupa manusia, dari segala tempat datang hinaan kepada mereka, mereka digiring ke penjara neraka jahannam yang di sebut Bulas, di bagian atasnya api yang menyala-nyala dan mereka diberi minuman dari kotoran penghuni neraka”.(HR. Tirmizi & Ahmad, dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat)

Semoga dengan merenungi nash-nash Ilahiyyah diatas, karunia Allah subhanahu wata’ala beserta kita dan bisa menjauhkan kita dari sifat angkuh dan sombong.

Sabtu, 06 November 2010

PERSAUDARAAN



"JIKA MATA ADALAH CAHAYA

MAKA HATI ADALAH PERMATA.
JIKA SENYUM ADALAH SEDEKAH
MAKA PERSAUDARAAN ADALAH ANUGRAH".

Minggu, 04 Juli 2010

TIDAK AKAN MASUK NERAKA ORANG YANG MENANGIS KERANA TAKUTKAN ALLAH

Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Bahawa tidak akan masuk neraka orang menangis kerana takut kepada Allah sehingga ada air susu kembali ke tempat asalnya."
Dalam sebuah kitab Daqa'iqul Akhbar menerangkan bahawa akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat nanti, dan sangat beratlah timbangan kejahatannya, dan telah diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam neraka.
Maka salah satu daripada rambut-rambut matanya berkata, "Wahai Tuhanku, Rasul Engkau Nabi Muhammad S.A.W telah bersabda, sesiapa yang menangis kerana takut kepada Allah S.W.T, maka Allah mengharamkan matanya itu ke neraka dan sesungguhnya aku menangis kerana amat takut kepada-Mu."

Akhirnya Allah S.W.T mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka dengan berkat sehelai rambut yang pernah menangis kerana takut kepada Allah S.W.T. Malaikat Jibril A.S mengumumkan, telah selamat Fulan bin Fulan sebab sehelai rambut."
Dalam sebuah kitab lain, Bidayatul-Hidayah, diceritakan bahawa pada hari kiamat nanti, akan didatangkan neraka jahanam dengan mengeluarkan suaranya, suara nyalaan api yang sangat menggerunkan, semua umat menjadi berlutut kerana kesusahan menghadapinya. Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, "Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) Pada hari ini kamu dibalasi menurut apa-apa yang telah kau kerjakan." (Surah al-Jatsiyah ayat 28)

Sebaik sahaja mereka menghampiri neraka, mereka mendengar kegeraman api neraka dengan nyalaan apinya, dan diterangkan dalam kitab tersebut bahawa suara nyalaan api neraka itu dapat didengar sejauh 500 tahun perjalanan. Pada waktu itu, akan berkata setiap orang hingga Nabi-nabi dengan ucapan, "Diriku, diriku (selamatkanlah diriku Ya Allah) kecuali hanya seorang nabi sahaja yang akan berkata, "Umatku, umatku."
Beliau ialah junjungan besar kita Nabi Muhammad S.A.W. Pada masa itu akan keluarlah api neraka jahim seperti gunung-gunung, umat Nabi Muhammad berusaha menghalanginya dengan berkata, "Wahai api! Demi hak orang-orang yang solat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusyuk, demi hak orang-orang yang berpuasa, supaya engkau kembali."

Walaupun dikata demikian, api neraka itu tetap tidak mahu kembali, lalu malaikat Jibril berkata, "Sesungguhnya api neraka itu menuju kepada umat Muhammad S.A.W"
Kemudian Jibril membawa semangkuk air dan Rasulullah meraihnya. Berkata Jibril A.S. "Wahai Rasulullah, ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya." Lalu Baginda mengambil dan menyiramkannya pada api itu, maka padamlah api itu.
Setelah itu Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada Jibril A.S. "Wahai Jibril, Apakah air itu?" Maka Jibril berkata, "Itulah air mata orang derhaka di kalangan umatmu yang menangis kerana takut kepada Allah S.W.T. Sekarang aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api itu." Maka padamlah api itu dengan izin Allah S.W.T.

Telah bersabda Rasulullah S.A.W, " Ya Allah anugerahilah kepada kami dua buah mata yang menangis kerana takut kepada-Mu, sebelum tidak ditemunya air mata."

Silaturrahmi memperpanjang umur

Suatu hari malaikat Izrail, malaikat pencabut nyawa, memberi tahu Nabi Daud a.s., bahwa si Fulan tinggal enam hari lagi akan dicabut nyawanya.

Jam berganti jam, hari berganti hari. Lewatlah deadline yang disampaikan oleh Izrail tentang si Fulan itu, tetapi nyatanya si Fulan itu masih tetap saja hidup terus. Maka, bertanyalah Nabi Daud kepada Izrail perihal kejadian ini.

“Mengapa si Fulan masih saja hidup terus, padahal engkau katakan beberapa hari yang lalu umurnya tinggal enam hari lagi, ya Izrail? Sekarang enam hari sudah berlalu sejak kau mengatakannya padaku, gerangan apakah ini?

Izrail memberi penjelasan kepada Nabi Daud. “Sebetulnya, aku sudah akan mencabut nyawanya tepat di hari yang aku katakan padamu itu. Tetapi, kemudian Allah memerintahkan kepadaku agar menunda dulu hal itu.”

“Mengapa demikian, ya Izrail?”

“Sejak hal itu aku katakan kepadamu, si Fulan tampak rajin menyumbang tali persaudaraan dengan sesama saudaranya yang sudah putus. Karena itu, Allah memberi tambahan umur selama 20 tahun kepadanya.”

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah

PRAHARA KEMATIAN

Pada zaman dahulu kala diceritakan ada seorang guru sufi memiliki enam puluh murid. Karena kedekatannya, sang guru pun hafal benar dengan kamampuan masing-masing muridnya. Pada suatu sore sang guru merasa bahwa saatnya untuk melakukan pengembaraan (safar) sudah tiba bagi murid-muridnya.

Lalu sang guru sufi mengumpulkan semua murid-muridnya. Dia ingin menyampaikan rencananya untuk melakukan tahapan pengembaraan.

“Sekarang saatnya kita harus melakukan pengembaraan jauh. Akan ada sebuah kejadian disepanjang perjalanan yang akan menimpa kita. Aku sendiri tidak tahu, apa itu. Dan kalian aku pikir sudah cukup paham untuk memasuki tahapan –maqam- ini,” demikian urai sang guru sufi, “Tapi ada satu hal yang harus kalian ingat, yakni perkataan ini: ‘Aku harus mati demi sang sufi’. Bersiaplah untuk meneriakkannya pada waktunya nanti. Dan aku akan mengangkat tanganku sebagai tanda,” lanjut sang guru sufi.

Para murid mulai berbisik-bisik satu sama lain. Mereka begitu heran dan khawatir, apa maksud dari perkataan gurunya? Ada kecurigaan menyelimuti mereka.

“Guru tahu bahwa kelak akan terjadi peristiwa tragis, dan dia siap mengorbankan kita semua. Guru tidak ingin mengorbankan dirinya sendiri,” kata seseorang dari mereka.

Salah seorang yang lain mencoba berani berkata: “Guru mungkin membuat rencana jahat. Boleh jadi itu sebuah pembunuhan. Saya tidak akan melakukan syarat yang dikatakannya.”

Namun, akhirnya pengembaraan pun segera dijalankan. Satu demi satu muridnya bergerak. Dan setapak demi setapak pengembaraan terus dijelang.

Setelah berhari-hari melakukan pengembaraan, tibalah sang guru bersama murid-muridnya disebuah kota. Ketika sampai di kota itu, kota selanjutnya sudah dikuasai oleh seorang raja zalim.

Raja kejam dengan pasukannya yang kuat menangkapi semua orang yang masuk ke kota itu. Dan siapa pun harus dipenggal karena dianggap melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri.

Raja kejam itu ketika melihat rombongan sang guru sufi kemudian memerintahkan pasukannya agar menangkap mereka, “Tangkap orang yang lemah lembut itu dan bawa dia untuk diadili di tengah-tengah alun-alun kota. Aku ingin menghukumnya sebagai seorang penjahat”.

Tidak ada kalimat yang terucap, kecuali: “siaa…ap, paduka raja!” Mereka kemudian menangkapi orang-orang yang ada di jalanan. Salah seorang murid guru sufi kemudian tertangkap.

Namun kemudian sang guru sufi mengikuti muridnya yang dibawa oleh tentara itu menuju rajanya. Genderang ditabuh; suasana riuh. Dan orang-orang penduduk kota pun semua berkumpul. Mereka paham kalau genderang yang didengar adalah isyarat kebiadaban dan kematian.

Lalu sang murid itu dilempar ke hadapan sang raja, dan sang raja berkata: “Sebagai contoh, kamu akan saya hukum sebagai seorang penjahat, agar penduduk tahu kalau saya tidak akan membiarkan pemberontakan dan pelarian.”

Namun, tiba-tiba sang guru berteriak dengan suara lantang: “Terimalah hidupku, wahai raja yang mulia, sebagai pengganti hidup pemuda yang tidak bersalah ini! Aku lah yang sebenarnya harus dihukum, karena aku lah yang mengajak dia mengembara!”

Pada waktu yang bersamaan, sang guru sufi itu mengangkat tangan kanannya. Lalu pekik menyahut membahana, seperti yang sudah diajarkan sebelumnya: “Izinkan kami saja yang mati sebagai ganti guru sufi kami itu”

Raja menjadi kaget dan keheranan. Lalu dia berpaling ke arah penasihat dan bertanya: “Orang macam apa mereka? Kenapa mereka berebut kematian? Jika ini yang dimaksud kepahlawanan, apakah ini tidak berarti sedang memprovokasi penduduk untuk melawan aku? Beri tahu aku penasehat, Apa yang harus aku lakukan?” tanya sang raja, dicekam kebingungan.

“Wahai raja, kalau ini dianggap sebagai kepahlawanan, maka kita harus bertindak kejam agar penduduk takut dan hilang keberaniannya! Tapi, saya kira tidak salah kalau saya lebih dahulu bertanya kepada guru mereka,” kata sang penasehat kepada raja.

Dan ketika ditanya, sang guru sufi menjawab: “Baginda yang mulia, telah diramalkan bahwa seorang manusia akan mati hari dan di sini. Orang itu akan mati dan hidup lagi. Lalu dia akan hidup abadi. Makanya aku dan murid-muridku ingin sekali menjadi orang itu.”

Lalu tiba-tiba kerakusan dalam diri sang raja pun berbisik dalam hatinya: “Kenapa harus orang lain yang mendapatkan keabadian? Kenapa aku membiarkan orang lain untuk mendapatkan keabadian itu! Bodoh sekali aku.”

Dan entah bagaimana sejenak kemudian raja memerintahkan pengawalnya agar segera membunuh dirinya untuk menyongsong keabadian itu. Akhirnya raja yang zalim dan rakus akan kekuasaan itu harus mati demi keabadian.

MEMBALAS BUDI ALMARHUM ORANG TUA

Setiap anak yang ditinggalkan orang tua-nya pasti akan merasa sangat kehilangan. Dan anak yang berbakti kepada orang tua-nya akan sangat kehilangan kesempatan, karena belum bisa maksimal untuk memuliakan orang tua semasa hidupnya. Kita boleh bersedih, kita boleh kehilangan, kita juga boleh menyesali karena belum bisa berbuat yang terbaik kepada orang tua semasa beliau masih hidup. Tetapi semua itu jangan dilakukan terlalu lama, ada banyak hal bermanfaat yang masih bisa kita lakukan sebagai bukti bakti kita kepada beliau.

Ada tuntunan melalui pelajaran berharga dari sang Nabi SAW, bahwa seluruh amal kebaikan manusia terhenti begitu wafat, kecuali 3 hal. Artinya, seseorang yang telah wafat tak bisa lagi berbuat sesuatu yang dapat menghasilkan pahala, kecuali dikarenakan adanya 3 hal. Yaitu : shadaqah jariyah,atau amal jariyah.

Misalnya, kita seseorang membiayai pembangunan tempat ibadah, sekolah, atau sarana umum lainnya dimana selama bangunan itu dipakai dan berguna bagi khalayak umum, maka pahala mengalir terus kepada orang yang bershadaqah itu, sekalipun orangnya telah wafat.

Yang kedua adalah ilmu yang bermanfaat. Setiap ilmu (pengetahuan) yang bermanfaat bagi orang lain akan terus menghasilkan pahala bagi orang yang memberinya. Pokoknya selama ia bermanfaat.

Yang ketiga adalah anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya. Doa seorang anak kepada orang tuanya, baik yang masih hidup maupun sudah wafat, akan terus menghasilkan pahala bagi orang tua yang mendidiknya.

Kita punya kesempatan ketiga hal di atas. Jika memang Kita merasa bersalah kepada orang tua, kita bisa mendoakannya setiap saat terutama selesai melakukan kebaikan atau ibadah kepada Yang Maha Kuasa, doanya antara
lain :

Tuhanku, ampunilah kedua orang tuaku dan kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka mendidikku sewaktu kecil. Kita bisa berdoa menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah atau bahasa apapun yang kita mengerti makna-nya, Tuhan pasti mengerti. Doa-doa ini sebaiknya kita mintakan setiap habis sembahyang atau setiap setelah berbuat kebaikan.

Yang juga bisa kita lakukan adalah, kita bershadaqah, berapapun nilainya, sekalipun cuman 1000 rupiah, dan niatkan bahwa shadaqah itu atas nama orang tua kita. Mohonkan kepada Yang Maha Kuasa bahwa pahalanya buat orang tua kita.

Kita juga bisa mengingat kembali siapa-siapa saja famili saudara orang tua kita, maka dekatilah mereka semua, berbaik-baiklah kepada mereka. Bukan hanya famili orang tua kita saja, tetapi juga teman dekatnya, semuanya kita
kasihi, sebagaimana kita mengasihi orang tua kita.

Dengan jalan-jalan itu, yakinlah bahwa INSYA ALLAH, kita akan dibukakan jalan terbaik dalam hidup ini, dan arwah orang tua kita akan selalu bahagia di alamnya sana.

BAHAN RENUNGAN

Pertama sekali biar aku perkenalkan diriku. Namaku ISLAM. Aku sudah lama diyatim piatukan. Dulu, ada orang yang menjaga aku. Namanya SAHABAT NABI. Kemudian, selepas sahabat nabi meninggal semuanya, aku telah dipelihara oleh TABI’IN dan TABI’UT TABI’IN. Sekarang, mereka sudah meninggalkan dunia. Aku sudah tidak ada tempat lagi di hati manusia.

Aku sedih sebab di jaman ini sudah tidak ada lagi manusia yang sanggup menjaga aku, menjaga kebajikan aku. Aku kesepian sendiri tak berteman. Hatiku bertambah pilu, Allah saja yang tahu. Entah kepada siapa lagi aku bermanja….

Jika aku pergi kepada orang kaya, Ah, aku sibuk, mana ada waktu untuk membela ISLAM ?? Jika aku mencari simpati dengan orang miskin, Aku sendiri tak kecukupoan, bagaimana aku membela ISLAM ?? Jika aku pergi kepada pelajar, katanya Aku sibuk dengan pelajaran, mana ada waktu untuk menjaga ISLAM ???

Sekarang, siapa lagi yang ingin mengambil aku ???

Aku pernah bahagia ketika ada yang bersungguh sungguh mengadopsiku. Kusangkakan panas hingga petang, rupanya turun hujan tengah hari. Ternyata kesungguhan itu hanya pura-pura. Aku dibawa kemana-mana lantaran keuntungan yang hendak diraihnya dariku. Banyak yang membawa namaku untuk mencari keuntungan, bahkan aku dijualnya. Akhirnya aku tahu. Hakekatnya hanya namaku yang mereka manfaatkan. Mereka tidak memeliharaku dengan sungguh-sungguh. Aku tetap diabaikan.

Tuan (engkau) yang membaca tulisan ini, bersimpatikah dengan aku yang yatim ini ??? Tuan, bantulah saya, kasihanilah saya. Saya sedih karena ditinggalkan oleh manusia. Jika tuan sudi menerima saya sebagai teman hidup tuan, cari saya dalam buku panduan yaitu AL-QUR’AN. Untuk info tambahan saya, silahkan rujuk kepada SUNNAH NABI.

Alangkah bahagianya saya dan tuan seandainya tuan juga mengajak orang lain menjaga saya. Saya akan membalas segala jasa baik tuan di akhirat nanti, dan saya senantiasa mendoakan agar Allah yang maha perkasa itu akan membalas jasa baik tuan..

Aku Yang Merana

(ISLAM)

Rasulullah saw. bersabda: “Islam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR Muslim no. 145)

Sabtu, 03 Juli 2010

Jangan Jadi Korban Mode 'Berpakaian Tapi Telanjang'

Assalammualaikum.Wr.Wb

Saat ini banyak banget muslimah yang sudah menutup aurat. Di satu sisi, senang sih karena itu artinya syariat Islam sudah bisa diterima oleh masyarakat Indonesia. Kerudung dan jilbab menjadi pemandangan umum dan tak lagi dipandang aneh seperti yang terjadi belasan tahun lalu. Namun di sisi lain, ada banyak pemandangan tak sedap berkaitan dengan fenomena muslimah berjilbab ini.

Berpakaian tapi telanjang. Rasulullah pernah ‘meramalkan’ akan datangnya zaman ini. Maksudnya apa tuh? Berpakaian sih berpakaian, tapi seluruh lekuk liku tubuh pemakainya terlihat semua. Mulai dari celana legging yang ketat sehingga membentuk (maaf) underwear hingga kaos transparan yang jelas-jelas menunjukkan ukuran bra seseorang. Parahnya, di atas kepala menutup rambutnya ada sehelai kain yang dililitkan ke leher sehingga seringkali kalung dan anting-antingnya terlihat.

Sedih tentunya melihat pemandangan seperti di atas itu. Gimana enggak, bila fungsi pakaian yang seharusnya adalah menutupi aurat malah digunakan sebaliknya. Kerudung yang seharusnya menjadi identitas seorang muslimah, disalahgunakan pada potongan yang jelas-jelas malah bertentangan dengan definisi menutup aurat sendiri. Tak jarang orang mencibir tentang karena salah paham tentang fenomena muslimah berjilbab. Padahal jelas-jelas, mereka sangat jauh dari definisi berjilbab yang dimaksud oleh Islam.

"…Kerudung yang seharusnya menjadi identitas seorang muslimah, disalahgunakan pada potongan yang jelas-jelas malah bertentangan dengan definisi menutup aurat sendiri…

ternyata belum tahu bagaimana seharusnya seorang muslimah berpakaian. Mereka ini hanyalah korban mode (kormod) yang sekarang lagi ngetren dipraktikkan banyak selebritis tanah air. Karena blow up media yang terus-menerus, akhirnya gaya berpakaian asal para selebritis itu lengkap dengan kerudungnya dijadikan panutan oleh masyarakat kita.

Sobat muda muslimah, semoga kamu bukan menjadi bagian dari mereka yang kormod itu. Di mana-mana yang namanya korban pasti nggak enak banget. Lebih baik kamu menjadi pelopor di tengah-tengah temanmu dengan tampil beda. How? Pakailah pakaian muslimah yang syar’i atau yang sesuai dengan apa maunya Islam. Coba kamu buka Al-Qur'an surat Al Ahzab 59 dan An-Nur 31. Di sana ada tuh, perintah dari Allah tentang bagaimana seharusnya muslimah menutup aurat.

Sedikit tentang kedua surat di atas yaitu perintah Qur’an sebagai firman Allah agar para muslimah itu menutup aurat dengan kerudung dan jilbab. Kerudung adalah kain yang menutupi rambut, telinga, leher dan menjulur hingga ke dada untuk menutupi ‘perhiasan alami’ kita. Sedangkan jilbab adalah baju longgar tanpa potongan di tengah menjulur hingga mata kaki dan sebagai baju luar menutup baju dalam yang biasa dipake ketika di dalam rumah. Kalo kamu ragu, bisa tuh dicek di kamus bahasa Arab yang kompatibel alias terpercaya untuk definisi jilbab.

" …So muslimah, berpakaianlah sebagaimana seharusnya seorang perempuan muslim itu berpakaian. Gak usah aneh-aneh sok ikutan mode tapi malah kesannya telanjang…

Nah, moga aja sedikit penjelasan ini membuat kamu makin cerdas tentang definisi kerudung dan jilbab. Juga paham bagaimana seharusnya muslimah itu berpakaian yang layak menurut Qur’an, bukan semaunya sendiri ikut-ikutan selebritis. Jangan sampai kamu turut ambil bagian menjadi perempuan yang berpakaian tapi telanjang. Ih…naudzhubillah deh.

So muslimah, berpakaianlah sebagaimana seharusnya seorang perempuan muslim itu berpakaian. Gak usah aneh-aneh sok ikutan mode tapi malah kesannya telanjang. Setuju kan? Muslimah shalihah yang cerdas pasti gak nolak kan? Pasti itu. Sip deh ^_^

Wassalammualaikum.Wr.Wb

Generasi Bebek? Enggak Lah Yaw!!!

Kalau kita lihat fakta generasi sekarang, mereka pada suka bercermin dengan gaya artis yang lagi trend, mulai dari gaya pakaiannya, gaya dandanannya, uh.. pokonya funky abis deh. Begitu juga dengan momen-momen yang berbau kebarat-baratan seperti Valentine Day alias 'Hari Kasih sayang' atau pesta Helloween yang banyak dirayakan di Metropolis ini. Berbagai tempat hiburan mulai dari restoran sampai departement store menyuguhkan berbagai atraksi dan pernik valentine, dari acara bagi-bagi bunga 'Kasih sayang', pemilihan pasangan model valentine, jamuan makan, hingga pesta atau bentuk hiburan lainnya.
**********

Kita sendiri tidak pernah tahu sejak kapan budaya memperingati Valentine Day tersebut masuk ke negeri ini. Tapi yang jelas… seperti yang dimuat dihampir semua media massa dinegeri ini, ternyata tidak sedikit saudara-saudara kita yang juga merayakannya. Entah dengan kirim kartu-lah, kirim bunga-lah, bikin pesta-kah atau pergi berdua dengan "pasangannnya". Dan sepertinya ini sudah tradisi bagi remaja-remaja kita sekarang, termasuk di dalamnya para generasi muda Islam. Mereka dengan senang hati mengekor pada budaya 'yang konon katanya dari barat' itu tanpa pingin tau sebenarnya apa sih Valentine Day itu, bagaimana sih hukum ikut- ikutan merayakannya dalam Islam? Trus sebenarnya layak nggak sih kita terus-terusan mengekor budaya Barat? Dan yang terakhir, bagaimana caranya supaya kita tidak lagi jadi mengekor budaya Barat tersebut?! Ternyata faktanya memang membuktikan kalau remaja- remaja muslim sekarang ini banyak yang ngekor budaya Barat. Kiblat mode itu di Paris ya kita yang di sini juga ikut-ikutan sama mereka, kagak peduli meski model bajunya kayak suku paling primitif di negeri ini. Nggak cuman itu saja tapi budayanya pun diambil mentah- mentah) contohnya ya..budaya merayakan Valentine, Hallowen, Happy Birthday, Candis Night Dinner, pacaran, dll. justru kalau ada yang tidak mengekor dibilang kuno. Nah, sebenarnya mengekor seperti itu apa benar menurut Islam?

STANDAR PERBUATAN SEORANG MUSLIM
Nah….sebenarnya, sebagai seorang muslim yang sudah bersyahadat, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, maka tentunya wajib bagi kita semua untuk senantiasa berusaha menjalankan segala apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Setiap kali kita melakukan perbuatan, kita wajib tahu bagaimana hukumnya sebelum kita melakukan perbuatan itu. Sebagaimana suatu kaidah syari'at Islam yang menyatakan:

"Ashal (pokok/dasar) perbuatan adalah terkait dengan hukum-hukum syari'at Islam"

Nah… apakah itu urusan pakaian, cara berdandan, merayakan valentine, ataukah yang lainnya kita cari dulu hukumnya apa dan gimana Islam mengatur semua itu. Bukankah Islam itu bisa menjawab segala macam permasalahan apapun?!! So, jangan takut tidak bisa ketemu hukumnya apa… . Seorang muslim tidak akan pernah berkiblat ke Paris, Amrik, Jepang, dll. Kiblatnya adalah Islam.

Kalau kita fahami nash-nash syara' yang lebih dalam lagi, akan kita dapati aturan yang lebih tegas lagi terhadap masalah ini, antara lain firman Allah SWT :

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertnggung jawabannya." (TQS Al Isra':36)

Juga firman Allah SWT :

"… Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu (keterangan-keterangan), sesungguhnya kamu kalau demikian termasuk golongan orang-orang dholim." (TQS Al Baqarah"145)

Tidak bolehkah kita mengambil, atau meniru atau menggunakan alat- alat yang diproduksi oleh orang Barat? Bukankah pesawat, televisi, komputer, robot, paku, kancing, kain dan masih banyak lagi barang- barang yang dibikin oleh orang-orang barat atau orang kafir yang lain yang tidak kita buat? Apa kita sama sekali tidak boleh mempergunakannya atau memakainya?

PERADABAN, APA ITU?
Kalau kita mau mencermati dengan teliti kehidupan yang kita (manusia) jalani, maka kita akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa kita adalah suatu komunitas yang beradab, yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain seperti hewan ataukah tumbuhan. Kita punya peradaban, sedang hewan atau tumbuhan tidak. Dengan peradaban itu, kita bisa membedakan satu kaum dengan kaum yang lainnya, juga satu bangsa dari bangsa lainnya. Karena peradaban itu adalah suatu ide/pemahaman tentang kehidupan, yang antara satu bangsa/umat/kaum itu berbeda satu sama lainnya. Peradaban ini sendiri bersifat khas (bagi suatu umat/bangsa/kaum), sesuai dengan pandangan hidup yang dianutnya, seperti ide/pemahaman bahwa Yesus adalah juru selamat manusia yang diyakini oleh orang Nashrani atau ide menjadikan manfaat sebagai azas dalam menjalani kehidupan yang dimiliki oleh orang-orang kapitalis.

Namun demikian, kalo kita juga mencermati dengan seksama, ternyata ada komponen lain yang juga senantiasa akan menyertai kehidupan manusia. Komponen itulah yang kita sebut dengan benda- benda/alat-alat. Contohnya, manusia butuh piring untuk makan, butuh alas kaki untuk melindungi kakinya, butuh baju untuk melindungi badannya atau butuh rumah untuk berlindungnya dari panas dan hujan. Nah…benda-benda itu ternyata kalo kita cermati, adakalanya bersifat khas, tapi adakalanya dia bersifat umum untuk seluruh manusia. Bentuk-bentuk benda yang dipengaruhi oleh ide/ pemahaman tentang kehidupan ini, semacam patung Yesus, Kalung swastika, baju biarawan/biarawati, adalah contoh-contoh benda yang bersifat khas. Sedangkan bentuk-bentuk benda yang dihasilkan oleh kemajuan sains dan perkembangan teknologi/industri. Semisal televisi, pesawat, komputer dan lain-lain.

Perbedaan antara ide dengan benda-benda ini harus senantiasa kita perhatikan, sebagaimana kita juga harus senantiasa memperhatikan perbedaan antara bentuk-bentuk benda yang dipengaruhi oleh suatu ide tentang kehidupan yang tertentu, dengan bentuk-bentuk benda yang dihasilkan oleh sains dan teknologi/industri.

Karena disitulah nantinya yang akan membedakan hukum dari penggunaan benda-benda tadi. Kalo kita menggunakan benda-benda yang bersifat 'aam (umum) ini tidaklah menjadi masalah karena memang bersifat umum, namun tidak demikian halnya dengan benda- benda yang bersifat khas seperti kalung patung Yesus atau patung Budha ataupun simbol NAZI, maka kaum muslimin dilarang dan diharamkan untuk memakainya. Demikian juga, kita tidak boleh mengambil atau melakukan upacara-upacara adat atau budaya- budaya suatu kaum yang itu merupakan manifestasi dari pemahaman kaum tersebut tentang kehidupan yang berbeda dengan Islam, kaya' upacara ngaben, natalan, imlek, melarung sajen ke laut untuk tolak bala dan sebagainya. Karena jelas-jelas peradaban yang dihasilkan dari ide dasar yang bertentangan dengan Islam itu pasti akan bertentangan pula dengan peradaban Islam, baik dari segi asasnya, pandangannya terhadap kehidupan maupun dari arti kebahagiaan hidup bagi manusia.

Demikian juga halnya dengan benda-benda yang dipengaruhi oleh peradaban ghoiru (selain) Islam seperti pakaian yang menunjukkan identitas/ciri khas kekafiran dan hanya dipakai oleh orang kafir, maka tidak boleh dipakai oleh seorang muslim (seperti baju pendeta, baju biksu, dan sebagainya). Sebab pakaian semacam itu menyandang pandangan hidup tertentu. Akan tetapi kalo' tidak demikian, yakni jika pakaian tersebut telah menjadi kebiasaan dalam berbusana dan tidak dianggap khusus sebagai pakaian khusus orang kafir, tapi cuman dipakai untuk sekedar memenuhi kebutuhan atau pemanis busana, maka dalam hal ini pakaian tersebut termasuk dalam jenis bentuk-bentuk benda yang bersifat umum dan boleh dikenakan.

Menggunakan benda-benda yang umum tidak masalah karena sifatnya umum, berbeda sama yang khas…, kaum muslimin dilarang untuk memakai/ menggunakannya kalau dipengaruhi sama ide/ pemahaman tertentu tentang kehidupan selain Islam.

Dalil mengenai hal ini Rasullah saw bersabda :

"Barang siapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk golongan kaum tersebut." (HR. Abu Dawud & Ibnu Abi Syaibah).

"Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani…." (HR. Tirmidzi)

Seharusnya sebagai seorang muslim standart kita adalah Islam … Islam is my way of life. Ibnu Khaldun (hehe, seperti nama ana), seorang cendekiawan muslim ahli sosiologi terkemuka pernah berkata: "Yang kalah cenderung mengekor yang menang, dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk di sini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni, seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding- dinding, pabrik-pabrik atau rumah-rumah."

Kalau kita pahami kondisi umat Islam saat ini sesuai dengan pernyataan Ibnu khaldun. Padahal jelas bahwa tujuan hidup kita hanya untuk meraih ridlo Allah, so apa yang kita lakukan haruslah sesuai dengan aturan-aturan Allah.

Nah.. mulai sekarang hentikan budaya mengekor Barat. Tunjukkan kalau kita sebagai generasi muslim yang mewarisi risalah Islam yang dulu pernah menjadi 'the best generation' …'the best ummah'. So menjadi generasi 'bebek'…? Enggak lah yauw…!!!

Hikmah Hari Ini.............

Bismilahirohmannirohim,

Alhamdu lillahi robbil 'alamin

Allohuma Sholi ‘ala sayyidina Muhammad…

Sobatku semua.....

Semoga kita senantiasa bisa mensyukuri atas kemuliaan yang kita terima dari Allah, dengan menjaga dan meningkatkan taqwa kita kepada allah sehingga keluarga kita sakinah, mawadah, dan rohmah. Dan Semoga rejeki kita dilimpah-limpahkan oleh Allah SWT, untuk kita gunakan sebagai bekal ibadah, dapat digunakan untuk ziarah ke mekah medinah, dan semoga kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Amin.

Memandang kondisi yang terjadi dewasa ini, Yang pertama, saya menilai alangkah apologisnya kita sekarang ini. Masyarakat sekarang ini tidak hanya sekedar apriori, tapi sudah pada tahap apologis, masyarakat tidak lagi peduli apa-apa yang terjadi. Masyarakat sudah terlalu lelah dan capek memikirkan permasalah-permasalah yang mereka hadapi.

Coba kita lihat di pemberitaan-pemberitaan di mass media, koran, televisi, radio, siapa yang harus kita percaya, yang benar itu siapa ? Pemerintah-kah , Para Wakil Rakyat-kah, ataukah ” Rakyat ” nya ? ( yang dimasud rakyat disini sangat sumir, karena setiap orang selalu mengatasnamakan demi rakyat, padahal yang disampaikan itu hanya suara pribadi atau paling banter suara sekelompok orang saja ).

Sebagian besar Masyarakat kita sudah tidak peduli.

Selain itu coba kita lihat, sepertinya apabila kita menghadapi masalah, ramainya itu paling lama hanya dalam hitungan minggu. Perhatikan kemarin kita mendengar gencarnya berita tentang Pak Antasari Ketua KPK yang tersandung kasus pembunuhan, sekarang sudah tidak terdengar beritanya lagi. Kemarin dulu tentang wabah flu burung, wabah antrak, dan lain-lain wabah penyakit, dulu begitu gencar di beritakan. Sekarang sudah tidak ada yang peduli lagi. Kenapa demikian ?

Yang kedua, masyarakat kita ini tidak lagi sekedar egois, tapi sudah meningkat pada egosentris yang sifatnya duniawiyah.

Misal suatu saat seorang suami baru saja pulang dari kerjanya, kemudian dia langsung mandi, ganti baju, memakai minyak wangi, bersisir, dan kemudian dia pergi keluar rumah lagi.
Kira-kira apa yang dipikir oleh si istri ?

Wah Suamiku pasti akan menemui wanita lain ! Atau dalam pikirannya koq tumben suamiku ini !!.

Tidak berhenti disitu, kemudian, setelah si suami pergi, kira-kira apa yang akan dilakukan si Istri ?

Bisa jadi dia kan menggeledah pakain suami yang dipakai tadi, kalo-kalo ada petunjuk perselingkuhan !

Kondisi semacam itu ternyata juga dialami oleh Rasulullah SAW.

Suatu ketika Rasulullah SAW, Pulang ke rumah salah satu Istri Beliau, yaitu Aisah RA. Tanpa berbasa-basi beliu langsung berganti pakain yang bagus dan pergi lagi. Melihat hal itu Aisah Curiga dan sedikit cemburu, jangan-jangan Beliau Rasulullah akan beralih ke istri yang lain. Oleh karenanya Beliau Aisah mengikuti kemana perginya Rasulullah SAW.

Ternyata beliau kemasjid dan melakukan sholat. Aisah menunggu cukup lama dan melihat bagaimana lamanya Rasulullah SAW bersujud, sampai dikira mati.

Sesampai di rumah Rasulullah SAW, bertanya kepada Aisah, kenapa kamu curiga ?

Dijawab oleh Aisah : ” Alangkah sangat dekatnya Engkau dengan agamamu, sedangkan aku sangat dekat dengan duniawi ”
Kemudian dijelaskan oleh Rasulullah :

Tadi tatkal aku tiba dan berganti baju, Jibril datang dan memberi tahuku ” Wahai Muhamad SAW, ini adalah malam lailatul nisfu sa’ban. Allah memerdekaan manusia-manusia dari neraka sebanyak tak terhitung jumlahnya, sehingga alangkah baiknya bila Engkau Muhammad SAW. mendoakan mereka. Oleh karena itu do’a yang kaudengar tadi lakukanlah dan ajarkanlah. Wahai Aisyah karena malam ini lalitul syakban, saya mohon ijin untuk sholat ( Al Hadist ).

Dari ilustrasi ini nampak bahwa Rasulullah SAW, itu sangat sayang kepada istri dan putranya, tapi juga sangat keras dalam hal Agama.

Apa yang kita ambil dari ilustrasi itu ?, ternyata kita ini selalu berpikir dan bertindak berdasar kepentingan sendiri, selalu memandang dari sudut pandang kepentingan diri sendiri.

Itulah yang disebut egosentris. Dan ini cukup memprihatinkan di kehidupan kita sehari-hari.

” Barang siapa yang mengajak-ajak kejalan hidayah, maka bagi dirinya mendapatkan pahala sama dengan orang-orang yang turut mengikuti ajakan-ajakan kebaikan tadi. Dan dari pahala orang-orang yang mengikuti ajakan kebaikan tersebut tidak terkurangi sedikitpun. Sebaliknya barang siapa yang mengajak kejalan yang salah maka bagi dirinya mendapatkan dosa dari mengajaknya dan juga menanggung dosa orang-orang yang mau diajak berbuat dosa dimaksud, dan dosannya orang-orang yang hanya mengikuti tidak dikurangi sedikitpun ”
Mari kita saling mengingatkan dalam hal kebajikan.

Terima kasih, semoga Allah meridhloi kita. Amin.

Wassalamu'alikum Wr.wb.

5 Syarat untuk melakukan Maksiat

Kisah seorang pemuda yang gemar melakukan Maksiat kepada Allah..

Pada suatu hari pemuda itu didatangi rasa kerisauan di atas tabiatnya yang suka melakukan kemaksiatan, lantas pemuda itu pergi berjumpa ahli sufi iaitu Ibrahim bin Adham.

Maka berkatalah pemuda itu kepada Ibrahim perihal dosanya dan kerisauannya di atas maksiat yang beliau telah lakukan..

Maka Ibrahim lantas memaklumkan kepada pemuda itu yang dia boleh melakukan maksiat sekiranya pemuda itu boleh memenuhi 5 syarat berikut, lantas pemuda itu berkata kepada Ibrahim yang hajat kedatangannya untuk mencari penyelesaian akan dosa maksiat yang dilakukannya, bukan untuk meneruskan kemaksiatannya.

Maka Ibrahim memberitahu pemuda berkenaan tentang 5 syarat berikut:-

Ibrahim : Syarat pertama jika kamu ingin berbuat maksiat, 'Jangan makan walau secubitpun rezeki yang Allah turunkan kepadamu'

Pemuda : Mana mungkin wahai Ibrahim kerana setiap makanan dan minuman yang ada di bumi ini adalah daripada Allah.

Ibrahim : Syarat kedua, jika kamu ingin berbuat maksiat, jangan kamu tinggal di bumi Allah ini

Pemuda : wahai Ibrahim, ke mana harus aku pergi sedangkan seluruh langit dan bumi adalah kepunyaanNya

Ibrahim : Syarat ketiga, carilah tempat persembunyian yang tidak dinampak oleh Allah untuk kamu melakukan maksiat.

Pemuda : wahai Ibrahim, sesungguhnya Allah itu Maha Melihat

Ibrahim : Syarat ke empat, Jika Malaikat Maut datang kepadamu untuk mencabut nyawa, katakanlah kepadanya, 'Nanti dulu wahai Malaikat Maut, aku belum bertaubat kepada Allah'.

Pemuda : Adakah aku tahu dan sedar bila nyawaku akan di ambil?

Ibrahim : Syarat yang akhir sekali, jika Malaikat Zabaniah ingin menghumban kamu ke dalam Neraka, katakanlah kepadanya, 'Aku tak ingin masuk Neraka, letakkanlah aku ke dalam Syurga'.

Jika kamu dapat penuhi 5 syarat berikut, maka kamu bebas untuk melakukan maksiat kepada Allah.

Justeru itu maka menangis dan meraunglah akan pemuda itu atas dosa yang telah dilakukannya, maka pemuda itu telah bertaubat kepada Allah dengan taubat Nasuha bersaksikan oleh Ibrahim bin Adham.

Masihkah kita ingin berbuat maksiat ???

Menghina Sang Pencipta, Namun kadang seringkali kita tak menyadarinya.

Sebagai saudara, teman atau tetangga, biasanya jika ada yang melahirkan maka berbondong-bondong lah kita untuk datang dan mengucapkan selamat. Karena anak karunia Allah dan sekaligus tertitip harapan di hati semoga menjadi orang yang shalih dan sholeha.

Menimang sang bayi dan mendo’akannya. Merupakan kebiasaan yang baik. Tapi kadang perbuatan baik tersebut ternodai dengan kata ( maksudnya hanya canda ) yang tidak seharusnya keluar dari mulut kita.

“Kok anaknya jelek? Tidak seperti ibunya.” Atau kata, “ Anaknya cakep, ayahnya jelek, keturunan darimana ini?” Atau, “hidungnya mancung, tapi…”

Banyak lagi kata yang biasanya ditanggapi dengan senyum atau tertawa yang menandakan, bahwa yang disinggung tak merasa itu sebuah kejelekan. Karena memang kata-kata itu sepertinya sudah lumrah untuk dikatakan oleh sebagian orang setiap bertemu dengan anak-anak. Tak ada masalah, karena yang melempar dan dilempar kata sama-sama maklum.

Padahal siapa sih yang ingin jelek? Semua orang pasti ingin berwajah cantik atau ganteng. Ingin postur tubuh atau secara fisik sesuai dengan standar apa yang berlaku di mata kita. Tidak ada yang ingin dikatakan jelek atau kurang baik. Apa yang ada di tubuh kita atau bentuk apa pun yang kita miliki inginnya itu lah yang terbaik nilainya di hadapan orang lain. Tapi kita ( sebagian orang ) sering kali terlupa, bahwa apa pun yang kita punyai atau pun orang lain miliki, semuanya adalah diciptakan sesuai dengan “kemauan” sang Pencipta tubuh kita. Kita tidak berhak memberi nilai minus untuk setiap ciptaan-Nya. Karena semuanya pasti ada hikmah yang tersembunyi.

Mari kita buka kembali lembaran suci Al-Qur’an dan lihat lah firman Allah Swt. pada surah Al-‘At-Tiin ayat 4 , “ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Allah sendiri memuji ciptaan-Nya dan kita sebagai hamba yang sering kali membacanya, tapi kadang lupa dengan terpleset lidah. Kita tak menyadari, sedikit demi sedikit hal negatif dari lingkungan kita tertanam di otak, dan menyadari itu ada hal yang wajar. Alias semuanya tahu, itu hanya canda.

Padahal canda atau apapun kata yang dikeluarkan dengan tujuan membuat segar suasana, tidak seharusnya kita menghina Allah ( walau tak menyadari ). Walau lingkungan menganggap itu biasa, tapi bagi kita yang beriman, tidak seharusnya terikut arus “pembiasaan” . Karena perbuatan itu tak seharusnya turut kita lakukan. Dan perbuatan yang kurang terpuji itu, bila sangat memungkinkan harus kita “cerahkan” dengan memberikan alasan yang bisa mereka terima dengan baik.

“.. saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”. ( Al-‘Ashr – ayat 3 )

SEMOGA BERMANFAAT

Cincin Nasrudin Yang Hilang

Cerita ini sangat terkenal dalam humor sufi...

Suatu ketika orang mendapati Nasrudin sedang mondar-mandir sambil melihat-lihat ke tanah di sekeliling rumah, seperti mencari-cari sesuatu yang hilang. Tetangga-2nya mendekatinya dan bertanya,
"Mencari apa Nasrudin?"
"Oh, saya mencari cincin saya yang hilang", jawab Nasrudin.
"Kalau begitu, kami bantu mencarikan", tetangga-tetangga itu menawarkan.

Kemudian tetangga-tetangga Nasrudin beramai-ramai membantu Nasrudin mencari cincin itu. Makin lama makin, banyak. Namun hingga menjelang sore, tetap saja cincin itu tidak ketemu. Penasaran, salah seorang bertanya,
"Nasrudin, sebenarnya di mana cincin itu hilang?"
"Di dalam rumah.."
"Lho, kenapa mencari di luar rumah?", tanya orang itu sambil marah.
"Karena di rumah gelap, jadi saya cari di luar yang terang..."

????????

Mungkin kita, akan berkomentar; Goblok! Bodoh! Nggak punya akal! Atau bahkan memaki dengan "Otak Kerbau", "Gila" atau "Sinting" kepada Nasrudin...

Namun anehnya, sesungguhnya kita sering melakukan hal yang sama dengan Nasrudin untuk hal yang jauh lebih berharga daripada sekedar Cincin. Kita hidup di dunia adalah mencari kebahagiaan, ketenangan, ketentraman. Kita juga sebagai Muslim tahu dan yakin, bahwa kebahagian itu ada dan tumbuh di dalam hati kita, di dalam dada kita. Seperti kata Rasulullah SAW, "Taqwa itu di dalam sini", sambil menunjukkan dadanya.

Kita yakin bahwa membangun kebahagiaan adalah dengan membersihkan, memperindah dan menanam isi hati kita, bukan di luarnya. Kita yakin, ketakwaan, kecintaan kepada Allah adalah yang akan menentramkan dan mendatangkan kebahagiaan, "fiddunya wal akhirat".

Namun sayangnya, yang kita lakukan tidaklah seperti yang kita yakini... Kita lebih sibuk untuk mencari di luar hati kita. Kita lebih semangat untuk mengejar kekayaan, prestise, harga diri, dan keinginan untuk dianggap pintar, cerdas, apalagi alim dan sholeh.

Padahal kita yakin, bukan itu yang menyebabkan kebahagiaan. Namun mengapa kita (terutama saya) lebih memilih untuk mengejar semua yang "di luar itu", daripada sibuk untuk memperbaiki apa yang di dalam (hati)? Mengapa saya lebih suka dianggap cerdas, sukses, kaya, apalagi plus alim dan shaleh, daripada karena lebih banyak membersihkan dan menggali kekayaan batin kita?

Bukan kita sama dengan Nasrudin, bahkan untuk hal yang lebih penting dari sekadar cincin...
Astaghfirullah.........

*Pustaka Hikmah

Sabtu, 29 Mei 2010

KETAHUILAH!

KETAHUILAH! bahwa dien ini hanya tegak di atas pundak orang-orang yang memiliki ‘azam yang kuat. Ia tidak akan tegak di atas pundak orang-orang yang lemah dan suka berhura-hura, TIDAK AKAN PERNAH!!

Dien yang agung ini hanya akan tegak di pundak orang-orang yang agung pula. Tanggung jawab besar yang sempat dienggani oleh langit dan bumi, pasti hanya akan dipikul oleh ahlinya, rijalnya.

BAGAIMANA MUNGKIN ISLAM AKAN TEGAK tanpa ‘azam seteguh ‘azam Anas bin Nadlar yang pernah berkata, “Sekiranya Allah memberi kesempatan kepadaku untuk memerangi orang-orang musyrik, niscaya Dia akan melihat apa yang aku lakukan.”
Lalu ia mengikuti perang uhud, berperang, dan gugur di sana. Pada tubuhnya didapati lebih dari 80 luka bekas anak panah, pedang, dan tombak. Tubuhnya terkoyak tak terkenali lagi. Hanya saudara perempuannya yang mengenalinya, dari jari-jemarinya.

BAGAIMANA MUNGKIN ISLAM AKAN TEGAK dan kembali jaya dan mulia tanpa ‘azam sekokoh ‘azam Abu Bakar ash-Shiddiq saat terjadi gerakan murtad massal. Saat itu, ia yang telah lanjut usia dan sangat gampang menangis, dengan ketegaran batu karang berkata, “Demi Allah, aku akan memerangi siapa pun yang memisahkan antara shalat dan zakat. Sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah sekiranya mereka tidak membayarkan satu iqal yang mereka bayarkan kepada Rasulullah niscaya aku akan benar-benar memerangi mereka karenanya.”

Ia juga berkata, “Demi Allah yang tiada Ilah yang haq selain Dia, kalaupun anjing-anjing menyeret kaki istri-istri Rasulullah saw, aku tidak akan menarik mundur pasukan yang telah diberangkatkan oleh Rasulullah dan aku pun tidak akan melipat panji yang telah dikibarkan oleh Rasulullah ”

BAGAIMANA MUNGKIN ISLAM AKAN TEGAK dan kembali mendapatkan kemuliaan dan ‘izzahnya tanpa tekad baja seperti tekad Mush’ab bin ‘Umair. Tekad yang membuatnya meninggalkan kehidupan masa muda, masa hura-hura , menuju kehidupan yang keras, fakir, dan bersahaja. Tekad yang telah menjadikan Mush’ab sebagai pintu masuk Islamnya kebanyakan penduduk Madinah.

Bahkan Anda akan merasakan bahwa Mush’ab adalah seorang pemilik tekad, sampai di saat kematiannya! Ia yang memegang panji dalam perang Uhud, tangan kanannya terputus, sehingga ia memegangnya dengan tangan kiri. Tangan kirinya pun terputus, maka ia memegang panji dengan kedua lengannya. Dalam keadaan seperti itu, Ibnu Qum’ah ~yang terlaknat~ menyabetkan pedangnya, dan Mush’ab pun gugur, semoga Allah merahmatinya. Bahkan lagi, mungkin Anda akan merasakan betapa tekad Mush’ab melekat erat padanya. Mush’ab, seorang pemuda perlente … para sahabat tidak mendapati kain yang cukup untuk mengkafaninya selain secarik kain, jika bagian atasnya ditutup akan tampaklah kakinya, dan jika kakinya yang ditutup akan tampaklah kepalanya! Maka Rasulullah saw memerintahkan mereka supaya menutup bagian kepalanya, dan menutupi kedua kakinya dengan rumput idzkhir.

BAGAIMANA MUNGKIN ISLAM AKAN TEGAK dan kembali mendapatkan kemuliaan dan ‘izzahnya tanpa tekad baja seperti tekad Shalahuddin al-Ayyubi. Tekad yang telah memporak-porandakan pasukan salib di Hithin dan mengembalikan ummat Islam kepada aqidah yang benar… setelah hampir saja tenggelam di kegelapan lautan Syi’ah dan kesesatan Bathiniyyah.

Betapa kita sangat membutuhkan tekad yang dimiliki oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Tekad yang telah menjadikan Sultan yang agung ini meninggalkan kemewahan hidup para raja, dan justru memilih kehidupan di bawah kemah yang terombang-ambing ditiup angin di tengah gurun sahara.

Seluruh hidupnya dia habiskan di bawah terpaan terik dan keringnya gurun pasir di musim panas serta dinginnya angin yang bertiup dan salju yang turun di musim dingin… Ia bersama para mujahidin.

Betapa indah penuturan seorang sejarawan, Ibnu Syidad tentangnya, “Kecintaan dan rindu dendamnya terhadap jihad telah meluapi hati dan seluruh persendiannya. Semua pembicaraannya tentang jihad. Semua kajiannya tentang perlengkapan jihad. Semua perhatiannya tentang pasukan tempur. Semua kecenderungannya terhadap orang-orang yang mengingatkan dan mendorong kepada jihad. Demi cintanya kepada jihad fi sabilillah, ia telah meninggalkan keluarga, anak-anaknya, kampungnya, tempat tinggalnya, dan seluruh negerinya dan rela memilih hidup di bawah kemah yang bergoyang ke kanan dan ke kiri dihembus angin.”

Jikalau bukan karena Allah menganugerahkan tekad Shalahuddin al-Ayyubi kepada ummat ini, niscaya dien ummat ini dan juga buminya akan sama rata, tidak tersisa tempat untuk hidup baginya.

BAGAIMANA MUNGKIN ISLAM AKAN TEGAK dan kembali mendapatkan kemuliaan dan ‘izzahnya tanpa tekad baja seperti tekad ‘Umar bin ‘Abdul‘aziz, yang lewat tangan ‘Umar Allah memperbaharui kondisi ummat dalam waktu dua setengah tahun saja; sampai-sampai dikatakan bahwa seekor serigala pun berdamai dengan seekor kambing pada masanya! Ini bukanlah suatu hal yang aneh atau asing kecuali bagi orang-orang yang ilmunya tentang Allah dan sunnah-Nya terhadap wali-wali-Nya hanya sedikit.

Betapa Islam sangat membutuhkan tekad semacam tekad ‘Umar bin ‘Abdul‘aziz yang pernah dikirimi surat ‘protes’ oleh salah seorang pegawainya. Isi surat itu, “Sesungguhnya reformasi keuangan yang dilakukan oleh khalifah dan penghapusan jizyah dari orang-orang Barbar yang masuk Islam pasti akan mengakibatkan defisit pada kas negara.”

Maka ‘Umar pun membalasnya sebagai berikut, “Demi Allah, aku benar-benar menginginkan andai semua orang masuk Islam, lalu aku dan kamu ke sawah, membajak, dan makan dari hasil jerih payah tangan kita.”

Pada kesempatan lain ‘Umar berkata, “Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad sebagai pembawa petunjuk, bukan penarik pajak.!!!”

Sehubungan dengan urgensi tekad inilah Rasulullah memohon kepada Rabb-nya, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam melaksanakan perintah dan tekad yang utuh untuk memberi petunjuk.”

Ini adalah pengajaran bagi kita, pendidikan bagi ummat Islam pada umumnya, dan bagi para aktivis pada khususnya. Untuk itu, hendaknya kita banyak-banyak memanjatkan doa yang agung ini disertai dengan memenuhi faktor-faktor pendukungnya.

SITUS BERBAHAYA

Tolong kirim pesan ini kepada setiap muslim yang Anda ketahui !
Jika tidak ... Setiap Muslim di seluruh dunia dapat menerima informasi yang
salah tentang Islam yang benar, jadi saya harap Anda mengirim pesan ini
segera setelah Anda sudah membacanya ...

Waspadalah terhadap
situs berikut:


1. http://www.facebook.com/l/5cc08;www.answering-islam.org

2.http://www.facebook.com/l/5cc08;www.aboutislam.com

3.http://www.facebook.com/l/5cc08;www.thequran.com

4.http://www.facebook.com/l/5cc08;www.allahassurance.com


Situs-situs
tersebut telah dikembangkan oleh orang-orang Yahudi.
Yang sengaja menyebar informasi yang salah tentang QURAN, hadits dan ISLAM
itu sendiri.
Silakan menyebarkan informasi ini Untuk semua saudara-saudara muslim di seluruh dunia.

Selalu memeriksa sumber dari segala situs web Islam bahkan jika sangat meyakinkan

A
FAKE AMERICAN Quraan



http://www.facebook.com/l/5cc08;www.amazon.com/exec/obidos/tg/detail/-/1579211755/qid%
3D1096805827/102-4933271-2395342


Above: 'The True
Furqan'


Jangan Abaikan ini, kirimkan ke semua muslim
sebanyak yang Anda bisa.


AMERICAN baru Quran: sebuah trik berbahaya Quran baru sedang didistribusikan di Kuwait, berjudul 'The True Furqan '. Dari majalah mingguan Setan dan Al-Furqan telah menemukan bahwa dua perusahaan percetakan Amerika; 'Omega 2001' dan 'Wine Press' yang terlibat dalam penerbitan 'The True Furqan', sebuah buku yang juga berjudul 'The 21st Century Quran'!
Ini lebih dari 366 halaman dan tersedia dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris ... itu sedang didistribusikan ke anak-anak kita di Kuwait pada sekolah swasta Inggris! Buku berisi 77 Surats, yang termasuk Al-Fatihah, Al-Jana dan Al-Injil. Daripada Bismillah, setiap Surat dimulai dengan Versi yang lebih panjang dari ini menggabungkan kepercayaan Kristen dari tiga roh.

Dan Al-Qur'an ini juga menentang banyak keyakinan Islam.
dalam salah satu ayat-ayat itu menggambarkan membolehkan lebih dari satu istri sebagai percabulan, perceraian menjadi dibolehkan dan menggunakan sistem baru untuk berbagi keluar dari kehendak, menentang yang benar.
Ini jg menyatakan bahwa Jihad adalah haram.

Buku ini bahkan seluruhnya menyerang Allah Subhanahu wa Ta'ala!

Semua ini meracuni anak-anak muslim.

Saudaraku pastikan Andamengirimkan pesan ini ke semua orang sebanyak mungkin sehingga kitadapat menghentikan "upaya berbahaya" ini.

Tolong sampaikan ke setiap orang yang Anda kenal dan semoga Allah membalas kebaikanmu dengan pahala yang berlipat ganda.

"Jagalah Allah maka Allah juga akan menjagamu"..(Al-Hadits)

Jazakumullah Khairan..
:)
Answering Islam, A Christian-Muslim Dialog and Apologetic
http://www.facebook.com/l/5cc08;www.answering-islam.org

Adab Bertetangga

Islam memerintahkan umatnya untuk bertetangga secara
baik. Bahkan, saking seringnya Jibril mewasiatkan agar
bertetangga dengan baik, Rasulullah pernah mengira
tetangga termasuk ahli waris. Kata Rasulullah, seperti
diriwayatkan oleh Aisyah, ''Jibril selalu mewasiatkan
kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa
ia akan mewarisinya.'' (HR Bukhari-Muslim).

Namun, ternyata waris atau warisan yang dimaksud
Jibril adalah agar umat Islam selalu menjaga hubungan
baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik
itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu,
menyapa, menanyakan kabarnya, menebar senyum, dan
mengirimkan hadiah. Sabda Rasulullah SAW, ''Wahai Abu
Dzar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah
airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.'' (HR
Muslim).

Lihatlah, betapa ringan ajaran Rasulullah, namun
dampaknya sangat luar biasa bagi kerukunan dan
keharmonisan kita dalam bermasyarakat. Untuk memberi
hadiah tidak harus berupa bingkisan mahal, tapi cukup
memberi sayur yang sehari-hari kita masak.

Untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga,
Rasulullah juga memerintahkan untuk saling menenggang
perasaan masing-masing. ''Barang siapa yang beriman
kepada Allah dan Hari Akhir,'' kata Rasulullah, ''maka
hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya.'' (HR
Bukhari).

Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah
tentang seorang wanita yang dikenal rajin melaksanakan
shalat, puasa, dan zakat, tapi ia juga sering
menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah
menegaskan, ''Pantasnya dia di dalam api neraka!''

Kemudian, sahabat itu bertanya lagi mengenai seorang
wanita lain yang dikenal sedikit melaksanakan shalat
dan puasa, namun sering berinfak dan tidak menyakiti
tetangganya dengan lisannya. Jawab Rasulullah, ''Ia
pantas masuk surga!'' (HR Ahmad).

Seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat
wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta
mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi
mubazir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan
tetangganya. Rasulullah bersumpah terhadap orang yang
berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya,
''Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman,
demi Allah tidak beriman
...!''

Sahabat bertanya, ''Siapa, ya Rasulullah?'' Beliau
menjawab, ''Orang yang tetangganya tidak pernah merasa
aman dari keburukan perilakunya.'' (HR Bukhari).

Suatu kali, Aisyah pernah bingung mengenai siapa di
antara tentangganya yang harus diutamakan. Lalu, ia
bertanya kepada Rasulullah, ''Ya Rasulullah, saya
mempunyai dua orang tetangga, kepada siapakah aku
harus memberikan hadiah?'' Beliau bersabda, ''Kepada
yang paling dekat rumahnya.'' (HR Bukhari).

Rasulullah menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai
acuan penilaian kebaikan seseorang. Kata beliau,
''Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling
baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik
tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.''
(HR Tirmidzi)

DIEN ITU NASEHAT (diambil dari buku "Kepada Aktivis Muslim")

Demikianlah Rasulullah sallahu alaihi wasallam berpesan untuk kita, dan inilah yang melatarbelakangi tulisan kami dalam lembaran-lembaran berikut. Kami menulis ini bukan karena tidak ada pekerjaan, dan bukan pula karena ada yang mau membacanya. Kami menulis karena kami merasa ada nasehat yang harus kami sampaikan kepada ikhwah, para aktivis, sebagai satu bentuk partisipasi kami dalam ‘perjalanan’ yang diberkati ini. Perjalanan untuk menegakkan dien dan meninggikan panji-panjinya.

Kami, sebagaimana dikatakan oleh sahabat yang mulia, ‘Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu, “Kita tidak memerangi manusia dengan bilangan, kekuatan, dan jumlah kita. Kita hanya memerangi mereka karena dien ini. Dien yang Allah memuliakan kita dengannya.”
Oleh karena itu, lazim bagi kita untuk berpegang teguh kepada dien ini melebihi seorang muqatil (tenaga tempur) yang memegang erat senjatanya di tengah kecamuk pertempuran. Sebab muqatil, kapan pun ia mengendorkan pegangannya, sirnalah harapannya untuk mendapatkan kemenangan, bahkan sirna pulalah segala asanya untuk tetap hidup. Demikian pula halnya dengan ‘ahluddiin’, kapan pun mereka lengah di dalam diennya -meski sesaat- semua citanya untuk menggapai kemenangan akan lenyap.
Sesungguhnya Allah hanya menolong orang-orang yang taat, ikhlas, berpegang teguh, dan bertawakkal kepada-Nya. Allah berfirman
وَلَيَنصُرَنَّ اللهُ مَن يَنصُرُهُ
Dan sesungguhnya Allah, benar-benar akan menolong orang-orang yang menolong (dien)-Nya. (al-Hajj : 40)

Maka barang siapa tidak ‘menolong’ Rabb-nya, Dia pun tidak akan menolongnya. Barangsiapa bermaksiat kepada-Nya, Dia akan meninggalkannya, membiarkannya bersama musuh-musuhnya.

‘Umar al-Faruq radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Kala kita tidak mampu mengalahkan musuh dengan ketaatan kita niscaya mereka akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka.”
Ternyata ‘Umar radhiyallahu ‘anhu lebih mengkhawatirkan dosa-dosa pasukannya daripada kekuatan musuhnya. Inilah bukti kesempurnaan pemahaman dan kebrilianan akal beliau.
Betapa kita ~di saat merasakan suasana ini~ ingin agar suasana ini senantiasa hadir di hati dan akal kita, tidak meninggalkan kita selama-lamanya.

Betapa kita ingin mengerti ~dengan ilmu yakin~ bahwa Allah telah menjamin kemenangan dien-Nya dan akan selalu menjaganya .. Maka barangsiapa selalu bersama Islam ke mana pun ia berputar, hati dan anggota badannya senantiasa taat kepada Allah, pastilah Allah akan menolongnya .. Barangsiapa menyimpang dari jalan yang lurus, pertolongan pun akan menjauh darinya.

Allah Mahatahu lagi Maha Bijaksana.. Allah Mahatahu. Artinya tidak ada sesuatu pun dari urusan kita yang tersembunyi bagi-Nya. Dia Mahatahu akan batin dan niat kita seperti halnya Dia Mahatahu akan lahir dan amal kita. Dia Maha Bijaksana. Artinya Dia akan selalu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia tidak akan memberikan anugerah berupa penjagaan dan pertolongan kepada siapa yang tidak berhak mendapatkannya.. Dan orang yang tidak berhak atas anugerah ini, sungguh tiada bagian untuknya selain keterpurukan.. Na’udzu billah, kita memohon perlindungan kepada Allah dari kehinaan di hadapan-Nya.
Nafsu terus memberontak, setan terus menggoda, dunia terus berhias, dan hawa sering sekali memenangkan pertempuran.

Mereka semua telah hadir. Mereka ingin menghalangi antara seorang hamba dengan kemenangan dan kejayaannya di dunia dan di akhirat.
Mereka berempat benar-benar musuh utama kita. Jika kita mampu menguasainya (nafsu, setan, dunia, dan hawa) niscaya akan lebih mudah bagi kita untuk menguasai musuh-musuh kita dari kalangan manusia..

Sebaliknya, jika kita dikuasai oleh keempatnya, sungguh antara kita dan musuh-musuh kita tiada lagi bedanya, sama-sama bermaksiat kepada Allah .. sementara mereka masih memiliki sesuatu yang lain; kekuatan yang lebih daripada yang kita miliki.. dan jika sudah demikian, kita akan kalah menghadapi mereka.

Kalimat-kalimat yang kami tulis di sini merupakan nasehat untuk membantu di dalam usaha mengalahkan nafsu, setan, dunia, dan hawa..
Wahai saudaraku, yang kami inginkan hanyalah menunjukkan yang baik … untuk menutup satu celah yang kami lihat… atau menambahkan yang kurang… atau menunjukkan yang makruf.

Peran kami adalah … berkata-kata dan memberi nasehat.
Celah tidak akan pernah tertutup, kekurangan tidak akan pernah hilang, dan yang makruf tidak akan pernah terwujud… kecuali dengan amal.
Di sinilah peranmu wahai saudaraku, peran kita semua.
Tentu saja, kata-kata bukan sekedar untuk diucapkan, tetapi ia untuk dipahami … dan diamalkan.
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللهُُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَسَتُرَدُّوْنَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat perkerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan”. (at-Taubah : 105)


Diambil dari buku Kepada Aktivis Muslim karya Dr. najih Ibrahim,

ETIKA BERGAUL SESAMA MUSLIM

BERGAUL adalah salah satu aktifitas yg kerap kali seseorang tidak dapat meninggalkannya, karena memang demikianlah keberadaan manusia sebagai makhluk sosial yg saling membutuhkan antara satu dgn yg lainnya. Melalui pergaulan, seseorang dpt menggali wawasan dan pengalaman serta memperluas cakrawala/pengetahuan. Namun, tidak semua orang dpt kita jadikan sebagai teman dlm pergaulan kita. Berikut ini di paparkan beberapa adab dalam bergaul:

1. MENCARI TEMAN YG BERAKHLAQ MULIA
Rosulullah saw bersabda: "Seseorang dilihat dari teman akrabnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yg menjadi teman akrabnya."(HR. Tirmizi:2378)

2. TOLONG-MENOLONG DALAM KEBAIKAN
.....Dan tolong-menolonglah km dalam mengerjakan kebaikan dan takwa,dan jgn tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran....(QS. Al maidah:2)

3. SALING MENASEHATI
Rosulullah saw, bersabda: "Agama ini dibangun diatas nasehat, kami(para sahabat) bertanya, kepada siapa Wahai rosulullah ? Rosulullah saw menjawab: 'kepada Alloh, kitab-Nya, rosul-Nya, dan kepada kaum muslimin seluruhnya."(HR. Muslim:55)
Berkata syaikh Fuad bin abdul aziz: "Diantara nasehat sesama muslim adalah menjelaskan kebenaran, mendakwahkan kepada yg haq (kebenaran), memerintahkan berbuat kebaikan, dan mencegah dari berbuat kemungkaran."

4. BERSIKAP LEMAH LEMBUT DALAM BERGAUL
Dari Aisyah bahwasanya Rosulullah saw bersabda: "Wahai aisyah, sesungguhnya Alloh mencintai lemah lembut dalam segala perkara."(HR. Bukhori:6024).
Imam ibnu Hajar al Asqolani menuturkan: "Maksud dari lemah lembut disini adalah bersikap lemah lembut kepada org lain, baik dalam perkataan maupun perbuatan, dan memberikan yg termudah kepadanya." (Fathul Bari 10/553)

5. BERAKHLAK MULIA KEPADA SESAMA MUSLIM
Rosulullah saw bersabda: "Sebaik baik kalian adalah org yg paling bagus akhlaknya."(HR. Bukhori:6035)
Fuad bin abdul aziz mengatakan: "Diantara akhlak mulia dalam pergaulan adalah selalu berwajah ceria, menyingkirkan kotoran, memaafkan kesalahan org lain, dan sebagainya dari sifat sifat terpuji."(kitabul adab:331)

6.MENDAMAIKAN SESAMA MUSLIM BILA TERJADI PERSENGKETAAN
Dari abu Darda ra, Rosulullah saw bersabda: "Maukah aku kabarkan kepada kalian suatu amalan yg derajatnya lebih utama daripada puasa, sholat, dan shodaqoh?" mereka (para sahabat) menjawab: "mau, wahai rosulullah." Rosulullah saw bersabda: "yaitu engkau mendamaikan dua orang yg sedang bersengketa, karena persengketaan diantara keduanya merupakan bencana."(HR. Abu dawud)

7. MENAHAN AMARAH DAN MEMAAFKAN KESALAHANTEMAN
Didalam bergaul dgn sesama muslim ataupun masyarakat, terkadang diantara kita menjumpai perkataan perkataaan yg menyakitkan hati dan membuat dada ini terasa sempit dan sesak. Akan tetapi, hal ini jangan sampai kita hadapi dgn menyulutkan api kemarahan ataupun emosi yg tak terkendalikan. Hendaknya kita berusaha untuk berlapang dada dan memaafkan pelakunya. Renungkan firman Alloh berikut: "Dan (bagi) org org yg menjauhi dosa dosa besar dan perbuatan perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. "(QS.Asy syuro:37).

8. MENJAGA LISAN DAN BERTUTUR KATA YG BAIK DALAM BERBICARA
Dalam berbicara harus menjauhi perkataan yg jelek, batil, ghibah, namimah, dan dari perkataan yg tak memberi manfaat maupun berbicara tanpa dasar ilmu. Alasannya, karena semua perkataan yg terucap dari lisan manusia, baik berupa kebaikan maupun kejelekan, semua itu akan di catat oleh kedua malaikat. Di samping itu, org yg berbicara tanpa menjelaskan isi dari apa yg dibicarakannya, niscaya ia akan tergelincir kedalam api neraka disebabkan karena perkataannya tersebut. Sebagaimana Rosulullah saw bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu perkataan tanpa peduli dgn ucapan tersebut sehingga ia tergelincir kedalam api neraka lebih jauh dari apa apa antara masyrik (timur) dan maghrib (barat)."(HR. Muttafaq 'alaihi)

9. TIDAK SALING DENGKI HASAD) SESAMA TEMAN
Hasad (isi hati) merupakan perbuatan yg tercela dan salah satu penyebab terpecahnya persahabatan."Dari abu huroiroh ra berkata: Rosulullah saw berabada: "Janganlah kalian saling dengki, saling berlaku curang dalam jual beli, saling membenci, saling membelakangi(menjahuhi), dan janganlah membeli barang yg tengah ditawar saudaranya, dan jadilah kalian hamba Alloh yg bersaudara."(HR. Muttafaq 'alaih)

Redaksi ini di ambil dari Bulletin al furqon