Minggu, 23 Mei 2010

Mujahid Ngampar

"A, ini ada surat dari saya, tapi jangan dibuka, nanti saja dibacanya setelah Aa tiba di Bandung."
Demikian ucapan yang diucapkan teman saya, mengutip ucapan istrinya yang saat ini sedang ada di Tangerang di rumah orang tuanya, mengawali perbincangannya dengan saya beberapa hari yang lalu, ketika kami bertemu di acara kajian rutin pekanan.
Maka setelah di Bandung, dibacalah surat tersebut yang merupakan surat dari istrinya yang sedang menunggu saat-saat kelahiran anak pertama mereka.
"A, bila Allah menakdirkan saya meninggal pada saat melahirkan nanti, saya rela meninggalkan dunia ini asal anak kita selamat. A, bila saya meninggal nanti, titip anak kita, jaga dia dengan baik," demikian salah satu isi surat dari istrinya itu.
Maka menangislah si Aa tadi setelah membaca surat dari istrinya. Air mata seorang lelaki, air mata seorang suami, air mata seorang calon bapak yang sedang menunggu dengan harap-harap cemas akan kelahiran anak pertamanya, akan keselamatan istri tercintanya yang baru satu tahun dia nikahi. Karena dia tahu bahwa proses kelahiran anak pertama adalah sangat beresiko, bahkan setiap proses melahirkan anak, nyawa ibu dan bayi adalah taruhannya
Demikian sekelumit cerita dari teman saya, ketika akhirnya dia bercerita tentang kondisi terakhir dirinya. Sangat terharu saya mendengar ceritanya. Saya bisa membayangkan bagaimana kalau saya menjadi dia, walaupun saya belum pernah menikah.
Kemudian dia melanjutkan ceritanya, "Akhi... sekarang saya sedang berusaha mencari tambahan uang, untuk biaya persalinan istri saya nanti. Sekarang saya beralih sementara berjualan kantong kresek, mengedarkan ke toko-toko kecil. Alhamdulillah kelihatannya cukup prospektif, walaupun belum laku banyak," ungkapnya.
"Mmm...," guman saya dalam hati.
Yang saya tahu bahwa dia berprofesi sebagai pedagang keliling, berjualan dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu emperan jalan ke emperan jalan lainnya, dari satu emperan masjid ke emperan masjid lainnya, dengan menghamparkan tikar dan kemudian menggelar barang dagangannya.
Dia cukup senang ketika kami memanggilnya dengan sebutan "Mujahid Ngampar".
Pahamlah saya kemudian bahwa dia sedang kesulitan mencari bekal buat persalinan istrinya yang tinggal dalam hitungan hari. Pahamlah saya kemudian ketika beberapa waktu yang lalu dia menawar-nawarkan VCD Player bututnya pada kami. Pahamlah kemudian saya ketika dia menawar-nawarkan topi rimba-nya, yang kemudian saya beli dengan harga 5.000 perak. Pahamlah kemudian saya bahwa itu semua dilakukannya untuk mengumpulkan bekal buat persalinan istrinya, di samping tentunya untuk menyambung hidupnya sekeluarga, walaupun untuk makan ala kadarnya.
"Ya Allah, sungguh Engkau telah memberikan pelajaran berharga bagi saya lewat cerita teman saya ini."
Terkadang saya merasa paling menderita ketika tidak makan 3 kali sehari, padahal baginya makan roti seharga 500 perak sehari sekali adalah hal yang lumrah . Terkadang saya merasa susah hati ketika tidur bantalnya sedikit tidak empuk, padahal dia tidur di mesjid beralaskan lantai yang dingin sangatlah sering.
Kadang saya merasa bangga sudah berdakwah dengan mengirimkan SMS berisi penggalan Hadist atau kutipan ayat al-Qur'an, yang belum tentu sudah saya amalkan. Padahal dia, kesulitan ekonomi tidak menghalanginya untuk berdakwah secara real di masyarakat, bahkan cukup banyak dia memiliki binaan dakwah, padalah usianya masih cukup muda, 23 tahun.
Kadang saya... ahhhh... malu rasanya untuk mengungkapkan semuanya.
Ya Allah... Saya takut kenikmatan yang Engkau berikan saat ini adalah untuk membalas sedikit amal yang pernah saya lakukan, dan di kemudian hari ketika nyawa ini dicabut, sudah impas, tidak memiliki amal kebaikan, hanya setumpuk dosa yang saya bawa sebagai beban di kemudian hari nanti.
Astagfirullah... Ya Allah, ampunillah dosaku.
Sangat mungkin kondisi teman saya tadi adalah cara Allah untuk menghapus dosanya, sehingga kemudian ketika dia meninggal nanti, dia sudah tidak punya dosa lagi, hanya tumpukkan amal kebaikan yang dia bawa nanti. Allahu a'lam
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Al Baqarah-286)

Sumber : Era Muslim 01/06/2004

(untuk seorang al-Akh, saudaraku... yang sedang menunggu )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar