Minggu, 04 Juli 2010

BAHAN RENUNGAN

Pertama sekali biar aku perkenalkan diriku. Namaku ISLAM. Aku sudah lama diyatim piatukan. Dulu, ada orang yang menjaga aku. Namanya SAHABAT NABI. Kemudian, selepas sahabat nabi meninggal semuanya, aku telah dipelihara oleh TABI’IN dan TABI’UT TABI’IN. Sekarang, mereka sudah meninggalkan dunia. Aku sudah tidak ada tempat lagi di hati manusia.

Aku sedih sebab di jaman ini sudah tidak ada lagi manusia yang sanggup menjaga aku, menjaga kebajikan aku. Aku kesepian sendiri tak berteman. Hatiku bertambah pilu, Allah saja yang tahu. Entah kepada siapa lagi aku bermanja….

Jika aku pergi kepada orang kaya, Ah, aku sibuk, mana ada waktu untuk membela ISLAM ?? Jika aku mencari simpati dengan orang miskin, Aku sendiri tak kecukupoan, bagaimana aku membela ISLAM ?? Jika aku pergi kepada pelajar, katanya Aku sibuk dengan pelajaran, mana ada waktu untuk menjaga ISLAM ???

Sekarang, siapa lagi yang ingin mengambil aku ???

Aku pernah bahagia ketika ada yang bersungguh sungguh mengadopsiku. Kusangkakan panas hingga petang, rupanya turun hujan tengah hari. Ternyata kesungguhan itu hanya pura-pura. Aku dibawa kemana-mana lantaran keuntungan yang hendak diraihnya dariku. Banyak yang membawa namaku untuk mencari keuntungan, bahkan aku dijualnya. Akhirnya aku tahu. Hakekatnya hanya namaku yang mereka manfaatkan. Mereka tidak memeliharaku dengan sungguh-sungguh. Aku tetap diabaikan.

Tuan (engkau) yang membaca tulisan ini, bersimpatikah dengan aku yang yatim ini ??? Tuan, bantulah saya, kasihanilah saya. Saya sedih karena ditinggalkan oleh manusia. Jika tuan sudi menerima saya sebagai teman hidup tuan, cari saya dalam buku panduan yaitu AL-QUR’AN. Untuk info tambahan saya, silahkan rujuk kepada SUNNAH NABI.

Alangkah bahagianya saya dan tuan seandainya tuan juga mengajak orang lain menjaga saya. Saya akan membalas segala jasa baik tuan di akhirat nanti, dan saya senantiasa mendoakan agar Allah yang maha perkasa itu akan membalas jasa baik tuan..

Aku Yang Merana

(ISLAM)

Rasulullah saw. bersabda: “Islam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR Muslim no. 145)

Sabtu, 03 Juli 2010

Jangan Jadi Korban Mode 'Berpakaian Tapi Telanjang'

Assalammualaikum.Wr.Wb

Saat ini banyak banget muslimah yang sudah menutup aurat. Di satu sisi, senang sih karena itu artinya syariat Islam sudah bisa diterima oleh masyarakat Indonesia. Kerudung dan jilbab menjadi pemandangan umum dan tak lagi dipandang aneh seperti yang terjadi belasan tahun lalu. Namun di sisi lain, ada banyak pemandangan tak sedap berkaitan dengan fenomena muslimah berjilbab ini.

Berpakaian tapi telanjang. Rasulullah pernah ‘meramalkan’ akan datangnya zaman ini. Maksudnya apa tuh? Berpakaian sih berpakaian, tapi seluruh lekuk liku tubuh pemakainya terlihat semua. Mulai dari celana legging yang ketat sehingga membentuk (maaf) underwear hingga kaos transparan yang jelas-jelas menunjukkan ukuran bra seseorang. Parahnya, di atas kepala menutup rambutnya ada sehelai kain yang dililitkan ke leher sehingga seringkali kalung dan anting-antingnya terlihat.

Sedih tentunya melihat pemandangan seperti di atas itu. Gimana enggak, bila fungsi pakaian yang seharusnya adalah menutupi aurat malah digunakan sebaliknya. Kerudung yang seharusnya menjadi identitas seorang muslimah, disalahgunakan pada potongan yang jelas-jelas malah bertentangan dengan definisi menutup aurat sendiri. Tak jarang orang mencibir tentang karena salah paham tentang fenomena muslimah berjilbab. Padahal jelas-jelas, mereka sangat jauh dari definisi berjilbab yang dimaksud oleh Islam.

"…Kerudung yang seharusnya menjadi identitas seorang muslimah, disalahgunakan pada potongan yang jelas-jelas malah bertentangan dengan definisi menutup aurat sendiri…

ternyata belum tahu bagaimana seharusnya seorang muslimah berpakaian. Mereka ini hanyalah korban mode (kormod) yang sekarang lagi ngetren dipraktikkan banyak selebritis tanah air. Karena blow up media yang terus-menerus, akhirnya gaya berpakaian asal para selebritis itu lengkap dengan kerudungnya dijadikan panutan oleh masyarakat kita.

Sobat muda muslimah, semoga kamu bukan menjadi bagian dari mereka yang kormod itu. Di mana-mana yang namanya korban pasti nggak enak banget. Lebih baik kamu menjadi pelopor di tengah-tengah temanmu dengan tampil beda. How? Pakailah pakaian muslimah yang syar’i atau yang sesuai dengan apa maunya Islam. Coba kamu buka Al-Qur'an surat Al Ahzab 59 dan An-Nur 31. Di sana ada tuh, perintah dari Allah tentang bagaimana seharusnya muslimah menutup aurat.

Sedikit tentang kedua surat di atas yaitu perintah Qur’an sebagai firman Allah agar para muslimah itu menutup aurat dengan kerudung dan jilbab. Kerudung adalah kain yang menutupi rambut, telinga, leher dan menjulur hingga ke dada untuk menutupi ‘perhiasan alami’ kita. Sedangkan jilbab adalah baju longgar tanpa potongan di tengah menjulur hingga mata kaki dan sebagai baju luar menutup baju dalam yang biasa dipake ketika di dalam rumah. Kalo kamu ragu, bisa tuh dicek di kamus bahasa Arab yang kompatibel alias terpercaya untuk definisi jilbab.

" …So muslimah, berpakaianlah sebagaimana seharusnya seorang perempuan muslim itu berpakaian. Gak usah aneh-aneh sok ikutan mode tapi malah kesannya telanjang…

Nah, moga aja sedikit penjelasan ini membuat kamu makin cerdas tentang definisi kerudung dan jilbab. Juga paham bagaimana seharusnya muslimah itu berpakaian yang layak menurut Qur’an, bukan semaunya sendiri ikut-ikutan selebritis. Jangan sampai kamu turut ambil bagian menjadi perempuan yang berpakaian tapi telanjang. Ih…naudzhubillah deh.

So muslimah, berpakaianlah sebagaimana seharusnya seorang perempuan muslim itu berpakaian. Gak usah aneh-aneh sok ikutan mode tapi malah kesannya telanjang. Setuju kan? Muslimah shalihah yang cerdas pasti gak nolak kan? Pasti itu. Sip deh ^_^

Wassalammualaikum.Wr.Wb

Generasi Bebek? Enggak Lah Yaw!!!

Kalau kita lihat fakta generasi sekarang, mereka pada suka bercermin dengan gaya artis yang lagi trend, mulai dari gaya pakaiannya, gaya dandanannya, uh.. pokonya funky abis deh. Begitu juga dengan momen-momen yang berbau kebarat-baratan seperti Valentine Day alias 'Hari Kasih sayang' atau pesta Helloween yang banyak dirayakan di Metropolis ini. Berbagai tempat hiburan mulai dari restoran sampai departement store menyuguhkan berbagai atraksi dan pernik valentine, dari acara bagi-bagi bunga 'Kasih sayang', pemilihan pasangan model valentine, jamuan makan, hingga pesta atau bentuk hiburan lainnya.
**********

Kita sendiri tidak pernah tahu sejak kapan budaya memperingati Valentine Day tersebut masuk ke negeri ini. Tapi yang jelas… seperti yang dimuat dihampir semua media massa dinegeri ini, ternyata tidak sedikit saudara-saudara kita yang juga merayakannya. Entah dengan kirim kartu-lah, kirim bunga-lah, bikin pesta-kah atau pergi berdua dengan "pasangannnya". Dan sepertinya ini sudah tradisi bagi remaja-remaja kita sekarang, termasuk di dalamnya para generasi muda Islam. Mereka dengan senang hati mengekor pada budaya 'yang konon katanya dari barat' itu tanpa pingin tau sebenarnya apa sih Valentine Day itu, bagaimana sih hukum ikut- ikutan merayakannya dalam Islam? Trus sebenarnya layak nggak sih kita terus-terusan mengekor budaya Barat? Dan yang terakhir, bagaimana caranya supaya kita tidak lagi jadi mengekor budaya Barat tersebut?! Ternyata faktanya memang membuktikan kalau remaja- remaja muslim sekarang ini banyak yang ngekor budaya Barat. Kiblat mode itu di Paris ya kita yang di sini juga ikut-ikutan sama mereka, kagak peduli meski model bajunya kayak suku paling primitif di negeri ini. Nggak cuman itu saja tapi budayanya pun diambil mentah- mentah) contohnya ya..budaya merayakan Valentine, Hallowen, Happy Birthday, Candis Night Dinner, pacaran, dll. justru kalau ada yang tidak mengekor dibilang kuno. Nah, sebenarnya mengekor seperti itu apa benar menurut Islam?

STANDAR PERBUATAN SEORANG MUSLIM
Nah….sebenarnya, sebagai seorang muslim yang sudah bersyahadat, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, maka tentunya wajib bagi kita semua untuk senantiasa berusaha menjalankan segala apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Setiap kali kita melakukan perbuatan, kita wajib tahu bagaimana hukumnya sebelum kita melakukan perbuatan itu. Sebagaimana suatu kaidah syari'at Islam yang menyatakan:

"Ashal (pokok/dasar) perbuatan adalah terkait dengan hukum-hukum syari'at Islam"

Nah… apakah itu urusan pakaian, cara berdandan, merayakan valentine, ataukah yang lainnya kita cari dulu hukumnya apa dan gimana Islam mengatur semua itu. Bukankah Islam itu bisa menjawab segala macam permasalahan apapun?!! So, jangan takut tidak bisa ketemu hukumnya apa… . Seorang muslim tidak akan pernah berkiblat ke Paris, Amrik, Jepang, dll. Kiblatnya adalah Islam.

Kalau kita fahami nash-nash syara' yang lebih dalam lagi, akan kita dapati aturan yang lebih tegas lagi terhadap masalah ini, antara lain firman Allah SWT :

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertnggung jawabannya." (TQS Al Isra':36)

Juga firman Allah SWT :

"… Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu (keterangan-keterangan), sesungguhnya kamu kalau demikian termasuk golongan orang-orang dholim." (TQS Al Baqarah"145)

Tidak bolehkah kita mengambil, atau meniru atau menggunakan alat- alat yang diproduksi oleh orang Barat? Bukankah pesawat, televisi, komputer, robot, paku, kancing, kain dan masih banyak lagi barang- barang yang dibikin oleh orang-orang barat atau orang kafir yang lain yang tidak kita buat? Apa kita sama sekali tidak boleh mempergunakannya atau memakainya?

PERADABAN, APA ITU?
Kalau kita mau mencermati dengan teliti kehidupan yang kita (manusia) jalani, maka kita akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa kita adalah suatu komunitas yang beradab, yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain seperti hewan ataukah tumbuhan. Kita punya peradaban, sedang hewan atau tumbuhan tidak. Dengan peradaban itu, kita bisa membedakan satu kaum dengan kaum yang lainnya, juga satu bangsa dari bangsa lainnya. Karena peradaban itu adalah suatu ide/pemahaman tentang kehidupan, yang antara satu bangsa/umat/kaum itu berbeda satu sama lainnya. Peradaban ini sendiri bersifat khas (bagi suatu umat/bangsa/kaum), sesuai dengan pandangan hidup yang dianutnya, seperti ide/pemahaman bahwa Yesus adalah juru selamat manusia yang diyakini oleh orang Nashrani atau ide menjadikan manfaat sebagai azas dalam menjalani kehidupan yang dimiliki oleh orang-orang kapitalis.

Namun demikian, kalo kita juga mencermati dengan seksama, ternyata ada komponen lain yang juga senantiasa akan menyertai kehidupan manusia. Komponen itulah yang kita sebut dengan benda- benda/alat-alat. Contohnya, manusia butuh piring untuk makan, butuh alas kaki untuk melindungi kakinya, butuh baju untuk melindungi badannya atau butuh rumah untuk berlindungnya dari panas dan hujan. Nah…benda-benda itu ternyata kalo kita cermati, adakalanya bersifat khas, tapi adakalanya dia bersifat umum untuk seluruh manusia. Bentuk-bentuk benda yang dipengaruhi oleh ide/ pemahaman tentang kehidupan ini, semacam patung Yesus, Kalung swastika, baju biarawan/biarawati, adalah contoh-contoh benda yang bersifat khas. Sedangkan bentuk-bentuk benda yang dihasilkan oleh kemajuan sains dan perkembangan teknologi/industri. Semisal televisi, pesawat, komputer dan lain-lain.

Perbedaan antara ide dengan benda-benda ini harus senantiasa kita perhatikan, sebagaimana kita juga harus senantiasa memperhatikan perbedaan antara bentuk-bentuk benda yang dipengaruhi oleh suatu ide tentang kehidupan yang tertentu, dengan bentuk-bentuk benda yang dihasilkan oleh sains dan teknologi/industri.

Karena disitulah nantinya yang akan membedakan hukum dari penggunaan benda-benda tadi. Kalo kita menggunakan benda-benda yang bersifat 'aam (umum) ini tidaklah menjadi masalah karena memang bersifat umum, namun tidak demikian halnya dengan benda- benda yang bersifat khas seperti kalung patung Yesus atau patung Budha ataupun simbol NAZI, maka kaum muslimin dilarang dan diharamkan untuk memakainya. Demikian juga, kita tidak boleh mengambil atau melakukan upacara-upacara adat atau budaya- budaya suatu kaum yang itu merupakan manifestasi dari pemahaman kaum tersebut tentang kehidupan yang berbeda dengan Islam, kaya' upacara ngaben, natalan, imlek, melarung sajen ke laut untuk tolak bala dan sebagainya. Karena jelas-jelas peradaban yang dihasilkan dari ide dasar yang bertentangan dengan Islam itu pasti akan bertentangan pula dengan peradaban Islam, baik dari segi asasnya, pandangannya terhadap kehidupan maupun dari arti kebahagiaan hidup bagi manusia.

Demikian juga halnya dengan benda-benda yang dipengaruhi oleh peradaban ghoiru (selain) Islam seperti pakaian yang menunjukkan identitas/ciri khas kekafiran dan hanya dipakai oleh orang kafir, maka tidak boleh dipakai oleh seorang muslim (seperti baju pendeta, baju biksu, dan sebagainya). Sebab pakaian semacam itu menyandang pandangan hidup tertentu. Akan tetapi kalo' tidak demikian, yakni jika pakaian tersebut telah menjadi kebiasaan dalam berbusana dan tidak dianggap khusus sebagai pakaian khusus orang kafir, tapi cuman dipakai untuk sekedar memenuhi kebutuhan atau pemanis busana, maka dalam hal ini pakaian tersebut termasuk dalam jenis bentuk-bentuk benda yang bersifat umum dan boleh dikenakan.

Menggunakan benda-benda yang umum tidak masalah karena sifatnya umum, berbeda sama yang khas…, kaum muslimin dilarang untuk memakai/ menggunakannya kalau dipengaruhi sama ide/ pemahaman tertentu tentang kehidupan selain Islam.

Dalil mengenai hal ini Rasullah saw bersabda :

"Barang siapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk golongan kaum tersebut." (HR. Abu Dawud & Ibnu Abi Syaibah).

"Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani…." (HR. Tirmidzi)

Seharusnya sebagai seorang muslim standart kita adalah Islam … Islam is my way of life. Ibnu Khaldun (hehe, seperti nama ana), seorang cendekiawan muslim ahli sosiologi terkemuka pernah berkata: "Yang kalah cenderung mengekor yang menang, dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk di sini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni, seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding- dinding, pabrik-pabrik atau rumah-rumah."

Kalau kita pahami kondisi umat Islam saat ini sesuai dengan pernyataan Ibnu khaldun. Padahal jelas bahwa tujuan hidup kita hanya untuk meraih ridlo Allah, so apa yang kita lakukan haruslah sesuai dengan aturan-aturan Allah.

Nah.. mulai sekarang hentikan budaya mengekor Barat. Tunjukkan kalau kita sebagai generasi muslim yang mewarisi risalah Islam yang dulu pernah menjadi 'the best generation' …'the best ummah'. So menjadi generasi 'bebek'…? Enggak lah yauw…!!!

Hikmah Hari Ini.............

Bismilahirohmannirohim,

Alhamdu lillahi robbil 'alamin

Allohuma Sholi ‘ala sayyidina Muhammad…

Sobatku semua.....

Semoga kita senantiasa bisa mensyukuri atas kemuliaan yang kita terima dari Allah, dengan menjaga dan meningkatkan taqwa kita kepada allah sehingga keluarga kita sakinah, mawadah, dan rohmah. Dan Semoga rejeki kita dilimpah-limpahkan oleh Allah SWT, untuk kita gunakan sebagai bekal ibadah, dapat digunakan untuk ziarah ke mekah medinah, dan semoga kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Amin.

Memandang kondisi yang terjadi dewasa ini, Yang pertama, saya menilai alangkah apologisnya kita sekarang ini. Masyarakat sekarang ini tidak hanya sekedar apriori, tapi sudah pada tahap apologis, masyarakat tidak lagi peduli apa-apa yang terjadi. Masyarakat sudah terlalu lelah dan capek memikirkan permasalah-permasalah yang mereka hadapi.

Coba kita lihat di pemberitaan-pemberitaan di mass media, koran, televisi, radio, siapa yang harus kita percaya, yang benar itu siapa ? Pemerintah-kah , Para Wakil Rakyat-kah, ataukah ” Rakyat ” nya ? ( yang dimasud rakyat disini sangat sumir, karena setiap orang selalu mengatasnamakan demi rakyat, padahal yang disampaikan itu hanya suara pribadi atau paling banter suara sekelompok orang saja ).

Sebagian besar Masyarakat kita sudah tidak peduli.

Selain itu coba kita lihat, sepertinya apabila kita menghadapi masalah, ramainya itu paling lama hanya dalam hitungan minggu. Perhatikan kemarin kita mendengar gencarnya berita tentang Pak Antasari Ketua KPK yang tersandung kasus pembunuhan, sekarang sudah tidak terdengar beritanya lagi. Kemarin dulu tentang wabah flu burung, wabah antrak, dan lain-lain wabah penyakit, dulu begitu gencar di beritakan. Sekarang sudah tidak ada yang peduli lagi. Kenapa demikian ?

Yang kedua, masyarakat kita ini tidak lagi sekedar egois, tapi sudah meningkat pada egosentris yang sifatnya duniawiyah.

Misal suatu saat seorang suami baru saja pulang dari kerjanya, kemudian dia langsung mandi, ganti baju, memakai minyak wangi, bersisir, dan kemudian dia pergi keluar rumah lagi.
Kira-kira apa yang dipikir oleh si istri ?

Wah Suamiku pasti akan menemui wanita lain ! Atau dalam pikirannya koq tumben suamiku ini !!.

Tidak berhenti disitu, kemudian, setelah si suami pergi, kira-kira apa yang akan dilakukan si Istri ?

Bisa jadi dia kan menggeledah pakain suami yang dipakai tadi, kalo-kalo ada petunjuk perselingkuhan !

Kondisi semacam itu ternyata juga dialami oleh Rasulullah SAW.

Suatu ketika Rasulullah SAW, Pulang ke rumah salah satu Istri Beliau, yaitu Aisah RA. Tanpa berbasa-basi beliu langsung berganti pakain yang bagus dan pergi lagi. Melihat hal itu Aisah Curiga dan sedikit cemburu, jangan-jangan Beliau Rasulullah akan beralih ke istri yang lain. Oleh karenanya Beliau Aisah mengikuti kemana perginya Rasulullah SAW.

Ternyata beliau kemasjid dan melakukan sholat. Aisah menunggu cukup lama dan melihat bagaimana lamanya Rasulullah SAW bersujud, sampai dikira mati.

Sesampai di rumah Rasulullah SAW, bertanya kepada Aisah, kenapa kamu curiga ?

Dijawab oleh Aisah : ” Alangkah sangat dekatnya Engkau dengan agamamu, sedangkan aku sangat dekat dengan duniawi ”
Kemudian dijelaskan oleh Rasulullah :

Tadi tatkal aku tiba dan berganti baju, Jibril datang dan memberi tahuku ” Wahai Muhamad SAW, ini adalah malam lailatul nisfu sa’ban. Allah memerdekaan manusia-manusia dari neraka sebanyak tak terhitung jumlahnya, sehingga alangkah baiknya bila Engkau Muhammad SAW. mendoakan mereka. Oleh karena itu do’a yang kaudengar tadi lakukanlah dan ajarkanlah. Wahai Aisyah karena malam ini lalitul syakban, saya mohon ijin untuk sholat ( Al Hadist ).

Dari ilustrasi ini nampak bahwa Rasulullah SAW, itu sangat sayang kepada istri dan putranya, tapi juga sangat keras dalam hal Agama.

Apa yang kita ambil dari ilustrasi itu ?, ternyata kita ini selalu berpikir dan bertindak berdasar kepentingan sendiri, selalu memandang dari sudut pandang kepentingan diri sendiri.

Itulah yang disebut egosentris. Dan ini cukup memprihatinkan di kehidupan kita sehari-hari.

” Barang siapa yang mengajak-ajak kejalan hidayah, maka bagi dirinya mendapatkan pahala sama dengan orang-orang yang turut mengikuti ajakan-ajakan kebaikan tadi. Dan dari pahala orang-orang yang mengikuti ajakan kebaikan tersebut tidak terkurangi sedikitpun. Sebaliknya barang siapa yang mengajak kejalan yang salah maka bagi dirinya mendapatkan dosa dari mengajaknya dan juga menanggung dosa orang-orang yang mau diajak berbuat dosa dimaksud, dan dosannya orang-orang yang hanya mengikuti tidak dikurangi sedikitpun ”
Mari kita saling mengingatkan dalam hal kebajikan.

Terima kasih, semoga Allah meridhloi kita. Amin.

Wassalamu'alikum Wr.wb.

5 Syarat untuk melakukan Maksiat

Kisah seorang pemuda yang gemar melakukan Maksiat kepada Allah..

Pada suatu hari pemuda itu didatangi rasa kerisauan di atas tabiatnya yang suka melakukan kemaksiatan, lantas pemuda itu pergi berjumpa ahli sufi iaitu Ibrahim bin Adham.

Maka berkatalah pemuda itu kepada Ibrahim perihal dosanya dan kerisauannya di atas maksiat yang beliau telah lakukan..

Maka Ibrahim lantas memaklumkan kepada pemuda itu yang dia boleh melakukan maksiat sekiranya pemuda itu boleh memenuhi 5 syarat berikut, lantas pemuda itu berkata kepada Ibrahim yang hajat kedatangannya untuk mencari penyelesaian akan dosa maksiat yang dilakukannya, bukan untuk meneruskan kemaksiatannya.

Maka Ibrahim memberitahu pemuda berkenaan tentang 5 syarat berikut:-

Ibrahim : Syarat pertama jika kamu ingin berbuat maksiat, 'Jangan makan walau secubitpun rezeki yang Allah turunkan kepadamu'

Pemuda : Mana mungkin wahai Ibrahim kerana setiap makanan dan minuman yang ada di bumi ini adalah daripada Allah.

Ibrahim : Syarat kedua, jika kamu ingin berbuat maksiat, jangan kamu tinggal di bumi Allah ini

Pemuda : wahai Ibrahim, ke mana harus aku pergi sedangkan seluruh langit dan bumi adalah kepunyaanNya

Ibrahim : Syarat ketiga, carilah tempat persembunyian yang tidak dinampak oleh Allah untuk kamu melakukan maksiat.

Pemuda : wahai Ibrahim, sesungguhnya Allah itu Maha Melihat

Ibrahim : Syarat ke empat, Jika Malaikat Maut datang kepadamu untuk mencabut nyawa, katakanlah kepadanya, 'Nanti dulu wahai Malaikat Maut, aku belum bertaubat kepada Allah'.

Pemuda : Adakah aku tahu dan sedar bila nyawaku akan di ambil?

Ibrahim : Syarat yang akhir sekali, jika Malaikat Zabaniah ingin menghumban kamu ke dalam Neraka, katakanlah kepadanya, 'Aku tak ingin masuk Neraka, letakkanlah aku ke dalam Syurga'.

Jika kamu dapat penuhi 5 syarat berikut, maka kamu bebas untuk melakukan maksiat kepada Allah.

Justeru itu maka menangis dan meraunglah akan pemuda itu atas dosa yang telah dilakukannya, maka pemuda itu telah bertaubat kepada Allah dengan taubat Nasuha bersaksikan oleh Ibrahim bin Adham.

Masihkah kita ingin berbuat maksiat ???

Menghina Sang Pencipta, Namun kadang seringkali kita tak menyadarinya.

Sebagai saudara, teman atau tetangga, biasanya jika ada yang melahirkan maka berbondong-bondong lah kita untuk datang dan mengucapkan selamat. Karena anak karunia Allah dan sekaligus tertitip harapan di hati semoga menjadi orang yang shalih dan sholeha.

Menimang sang bayi dan mendo’akannya. Merupakan kebiasaan yang baik. Tapi kadang perbuatan baik tersebut ternodai dengan kata ( maksudnya hanya canda ) yang tidak seharusnya keluar dari mulut kita.

“Kok anaknya jelek? Tidak seperti ibunya.” Atau kata, “ Anaknya cakep, ayahnya jelek, keturunan darimana ini?” Atau, “hidungnya mancung, tapi…”

Banyak lagi kata yang biasanya ditanggapi dengan senyum atau tertawa yang menandakan, bahwa yang disinggung tak merasa itu sebuah kejelekan. Karena memang kata-kata itu sepertinya sudah lumrah untuk dikatakan oleh sebagian orang setiap bertemu dengan anak-anak. Tak ada masalah, karena yang melempar dan dilempar kata sama-sama maklum.

Padahal siapa sih yang ingin jelek? Semua orang pasti ingin berwajah cantik atau ganteng. Ingin postur tubuh atau secara fisik sesuai dengan standar apa yang berlaku di mata kita. Tidak ada yang ingin dikatakan jelek atau kurang baik. Apa yang ada di tubuh kita atau bentuk apa pun yang kita miliki inginnya itu lah yang terbaik nilainya di hadapan orang lain. Tapi kita ( sebagian orang ) sering kali terlupa, bahwa apa pun yang kita punyai atau pun orang lain miliki, semuanya adalah diciptakan sesuai dengan “kemauan” sang Pencipta tubuh kita. Kita tidak berhak memberi nilai minus untuk setiap ciptaan-Nya. Karena semuanya pasti ada hikmah yang tersembunyi.

Mari kita buka kembali lembaran suci Al-Qur’an dan lihat lah firman Allah Swt. pada surah Al-‘At-Tiin ayat 4 , “ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Allah sendiri memuji ciptaan-Nya dan kita sebagai hamba yang sering kali membacanya, tapi kadang lupa dengan terpleset lidah. Kita tak menyadari, sedikit demi sedikit hal negatif dari lingkungan kita tertanam di otak, dan menyadari itu ada hal yang wajar. Alias semuanya tahu, itu hanya canda.

Padahal canda atau apapun kata yang dikeluarkan dengan tujuan membuat segar suasana, tidak seharusnya kita menghina Allah ( walau tak menyadari ). Walau lingkungan menganggap itu biasa, tapi bagi kita yang beriman, tidak seharusnya terikut arus “pembiasaan” . Karena perbuatan itu tak seharusnya turut kita lakukan. Dan perbuatan yang kurang terpuji itu, bila sangat memungkinkan harus kita “cerahkan” dengan memberikan alasan yang bisa mereka terima dengan baik.

“.. saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”. ( Al-‘Ashr – ayat 3 )

SEMOGA BERMANFAAT

Cincin Nasrudin Yang Hilang

Cerita ini sangat terkenal dalam humor sufi...

Suatu ketika orang mendapati Nasrudin sedang mondar-mandir sambil melihat-lihat ke tanah di sekeliling rumah, seperti mencari-cari sesuatu yang hilang. Tetangga-2nya mendekatinya dan bertanya,
"Mencari apa Nasrudin?"
"Oh, saya mencari cincin saya yang hilang", jawab Nasrudin.
"Kalau begitu, kami bantu mencarikan", tetangga-tetangga itu menawarkan.

Kemudian tetangga-tetangga Nasrudin beramai-ramai membantu Nasrudin mencari cincin itu. Makin lama makin, banyak. Namun hingga menjelang sore, tetap saja cincin itu tidak ketemu. Penasaran, salah seorang bertanya,
"Nasrudin, sebenarnya di mana cincin itu hilang?"
"Di dalam rumah.."
"Lho, kenapa mencari di luar rumah?", tanya orang itu sambil marah.
"Karena di rumah gelap, jadi saya cari di luar yang terang..."

????????

Mungkin kita, akan berkomentar; Goblok! Bodoh! Nggak punya akal! Atau bahkan memaki dengan "Otak Kerbau", "Gila" atau "Sinting" kepada Nasrudin...

Namun anehnya, sesungguhnya kita sering melakukan hal yang sama dengan Nasrudin untuk hal yang jauh lebih berharga daripada sekedar Cincin. Kita hidup di dunia adalah mencari kebahagiaan, ketenangan, ketentraman. Kita juga sebagai Muslim tahu dan yakin, bahwa kebahagian itu ada dan tumbuh di dalam hati kita, di dalam dada kita. Seperti kata Rasulullah SAW, "Taqwa itu di dalam sini", sambil menunjukkan dadanya.

Kita yakin bahwa membangun kebahagiaan adalah dengan membersihkan, memperindah dan menanam isi hati kita, bukan di luarnya. Kita yakin, ketakwaan, kecintaan kepada Allah adalah yang akan menentramkan dan mendatangkan kebahagiaan, "fiddunya wal akhirat".

Namun sayangnya, yang kita lakukan tidaklah seperti yang kita yakini... Kita lebih sibuk untuk mencari di luar hati kita. Kita lebih semangat untuk mengejar kekayaan, prestise, harga diri, dan keinginan untuk dianggap pintar, cerdas, apalagi alim dan sholeh.

Padahal kita yakin, bukan itu yang menyebabkan kebahagiaan. Namun mengapa kita (terutama saya) lebih memilih untuk mengejar semua yang "di luar itu", daripada sibuk untuk memperbaiki apa yang di dalam (hati)? Mengapa saya lebih suka dianggap cerdas, sukses, kaya, apalagi plus alim dan shaleh, daripada karena lebih banyak membersihkan dan menggali kekayaan batin kita?

Bukan kita sama dengan Nasrudin, bahkan untuk hal yang lebih penting dari sekadar cincin...
Astaghfirullah.........

*Pustaka Hikmah